Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Penyempurnaan Definisi Korupsi Jangan Sampai Lemahkan Pemberantasan Rasuah

28 Rabu, 28 Okt 2026, 01:00 WIB | Oleh:
Penyempurnaan Definisi Korupsi Jangan Sampai Lemahkan Pemberantasan Rasuah Penyempurnaan Definisi Korupsi Jangan Sampai Lemahkan Pemberantasan Rasuah Doc: istimewa
Ket. Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra

Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menegaskan rencana penyempurnaan definisi tindak pidana korupsi tidak akan melemahkan upaya pemberantasan rasuah, melainkan bertujuan memperjelas norma hukum dan memberikan kepastian hukum.

“Pasti tidak. Namanya kan menyempurnakan. Artinya, dia lebih ketat, jelas, dan pasti. Itu akan membuat keadaan menjadi lebih baik,” kata Yusril di Jakarta, Selasa (27/10).

Pemerintah berencana merumuskan kembali Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001. Menurut Yusril, kedua pasal tersebut masih terlalu luas sehingga berpotensi menimbulkan multitafsir dalam penegakan hukum.

Dikutip dari Antara, Yusril mengatakan penyempurnaan dilakukan agar batasan perbuatan yang tergolong korupsi lebih jelas dan tidak membuat pejabat maupun pelaku usaha ragu mengambil keputusan karena khawatir terjerat perkara pidana.

Pemerintah juga akan mempertegas definisi tindak pidana korupsi, termasuk unsur kerugian keuangan negara. Yusril menegaskan tidak ada niat menghapus unsur tersebut, sementara pengategorian tindak pidana diharapkan mempermudah penerapan hukum.

“Di luar itu, dia bukan korupsi. Namun, yang bukan korupsi itu bukan berarti tidak bisa ditindak. Dia bisa ditindak, tapi masuk kategori tindak pidana yang lain,” ujarnya.

Di sisi lain, anggota Komisi III DPR RI Soedeson Tandra mengingatkan agar unsur kerugian keuangan negara tetap dipertahankan dalam definisi korupsi. Ia menilai penghapusan unsur tersebut berisiko mengubah kedudukan korupsi sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime).

“Kalau korupsi dianggap kejahatan biasa, saya khawatirnya nanti ada yang menuntut, ‘Kalau kejahatan biasa, bubarkan itu KPK.’ Menurut saya, ini bisa menjadi bencana nasional,” kata Soedeson.

Ia merespons usulan penyesuaian definisi korupsi oleh DEN agar selaras dengan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Menentang Korupsi (UNCAC), yang antara lain mengatur tindak pidana penyuapan. Menurut dia, negara peserta tetap memiliki ruang untuk menyesuaikan ketentuan konvensi dengan sistem hukum nasional.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
Luar Negeri
AS Pertimbangkan Pangkas Ta...
Megapolitan
Mitigasi Bencana, BPBD Tang...
Luar Negeri
Mojtaba Khamenei Masih Mena...

Janice Melaju di Sektor Ganda dan Tunggal

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Janice Melaju di Sektor Gan...
Olahraga
Sabalenka Nikmati Pertarung...
Advertisement
Ubah Sampah Jadi Berkah, Mahasiswa UNEJ Raih Penghargaan Nasional Berkat Inovasi Desa Nol Sampah

Ubah Sampah Jadi Berkah, Mahasiswa UNEJ Raih Penghargaan Nasional Berkat Inovasi Desa Nol Sampah

27 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.