Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
pasang iklan di koran jakarta
Ads

Leptospirosis Tewaskan Tujuh Orang, Pencegahan di Kulon Progo Dikaji Pemerintah Pusat

27 Selasa, 27 Okt 2026, 17:00 WIB | Oleh:
Leptospirosis Tewaskan Tujuh Orang, Pencegahan di Kulon Progo Dikaji Pemerintah Pusat Leptospirosis Tewaskan Tujuh Orang, Pencegahan di Kulon Progo Dikaji Pemerintah Pusat Doc: Dok. Pemkab Kulon Progo

KULON PROGO, — Sebanyak 64 kasus leptospirosis ditemukan di Kabupaten Kulon Progo sepanjang 2026 dengan tujuh penderita meninggal dunia. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam asesmen pencegahan zoonosis dan penyakit infeksi emerging (PIE), setelah Kulon Progo dipilih sebagai satu dari empat wilayah prioritas nasional untuk dipelajari praktik penanganannya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo Eko Budiarto mengatakan leptospirosis menjadi ancaman zoonosis yang dominan di wilayah tersebut. Penyakit yang disebabkan bakteri dan dapat ditularkan melalui urine tikus itu banyak ditemukan pada kelompok petani dan pekerja serabutan.

"Ya, kalau yang utamanya untuk pencegahan nggih perilaku hidup bersih sehat (PHBS) ya, ini yang didiskusikan, bagaimana masyarakat bisa kita sosialisasikan. Dan di layanan kesehatan tentu berusaha untuk penyakit ini segera ditemukan dan kalau sudah bergejala langsung diobati dengan antibiotik yang tepat”, jelas dr. Eko Budiarto.

Selain pencegahan melalui perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), penemuan kasus secara dini menjadi faktor penting untuk menekan risiko kondisi pasien memburuk. Penanganan yang cepat dinilai meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan.

“Asal segera didapat kasusnya, gejalanya belum terlalu terlihat tanda-tanda sepsis, segera kasih antibiotik sebab dari penyakitnya kalau bisa ditemukan dan ditangani, tingkat keberhasilannya tinggi”, tegas dr.Eko Budiarto.

Kulon Progo menjadi salah satu dari empat wilayah yang dipilih untuk asesmen praktik pencegahan zoonosis dan PIE bersama Bali, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Tim asesmen Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) melakukan penggalian informasi melalui diskusi bersama masyarakat dan organisasi perangkat daerah (OPD) di Bale Agung, Senin (26/10).

Guru Besar Epidemiologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Sulistyawati mengatakan Kulon Progo dipilih karena pemerintah ingin mempelajari praktik yang telah dijalankan daerah tersebut dalam mengendalikan kasus.

"Kita sebetulnya pengin belajar praktik baik apa yang kemudian sudah dijalankan oleh Kulon Progo sehingga kasusnya tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan Bantul”, ungkap Prof Sulistyawati.

Ketua Tim Asesmen Kemenko PMK RI Ratna Kusumadewi menilai keterlibatan masyarakat dalam penanganan persoalan tersebut cukup kuat. Unsur yang terlibat antara lain pemerintah kalurahan, peternak, kader kesehatan, tokoh agama, hingga warga yang pernah terkena leptospirosis.

“Kalau saya bilang proaktif luar biasa. Jadi kegiatan FGD kami ada dua, pagi ini dengan komunitas, siang nanti dengan OPD. Nah, ini saya melihat dari komunitas tadi ada lurah, ada dari peternakan, dari kader, dari tokoh agama, dari yang terkena leptos, luar biasa tanggapannya. Jadi mereka proaktif”, jelas Ratna.

Menurut Ratna, pencegahan zoonosis dan PIE perlu diperkuat melalui PHBS dan sanitasi lingkungan karena kedua kelompok penyakit tersebut berkaitan erat dengan kondisi lingkungan. Tantangannya adalah mengubah kebiasaan masyarakat secara konsisten.

“Karena memang PHBS ini sebenarnya sudah lama ada ya, hanya merubah budaya, merubah sikap, merubah perilaku seseorang itu agak susah. Jadi perlu terus-menerus didengungkan, terus-menerus digalakkan, dan diperkuat”, ujar Ratna.

Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko mengatakan penanganan persoalan kesehatan masyarakat membutuhkan koordinasi pemerintah pusat dan daerah serta keterlibatan masyarakat.

"Apapun sesuatu kalau kita saling koordinasi, kolaborasi, pasti semua apa yang menyangkut tentang masyarakat, tentang kebutuhan, bisa terselesaikan atau terkomunikasikan dengan baik. Kita jadikan Kabupaten Kulon Progo yang bebas dari penyakit semuanya, karena kebersihan adalah sebagian dari iman," tegas Ambar Purwoko di hadapan para peserta FGD.

Hasil asesmen tersebut diharapkan dapat mengidentifikasi praktik pencegahan yang efektif sekaligus menjadi bahan penguatan penanganan zoonosis dan penyakit infeksi emerging di Kulon Progo maupun daerah lainnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sejumlah Film Indonesia Ikut Festival Film Tokyo 2026, Apa Saja?

Sejumlah Film Indonesia Ikut Festival Film Tokyo 2026, Apa Saja?

27 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.