Ubah Sampah Jadi Berkah, Mahasiswa UNEJ Raih Penghargaan Nasional Berkat Inovasi Desa Nol Sampah
Selasa, 27 Okt 2026, 21:42 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SKetua BSLM Siti Herawati mengungkapkan, pendampingan yang diberikan telah meningkatkan kemampuan kelompoknya dalam mengolah berbagai jenis limbah menjadi produk baru.
Salah satu inovasinya adalah mendaur ulang limbah popok sekali pakai atau diapers menjadi pot tanaman. Selain itu, kelompok tersebut memanfaatkan kemasan plastik multilayer untuk membuat mulsa dan mengolah plastik jenis HDPE menjadi papan yang dapat digunakan sebagai bahan mebel.
“Kami juga dapat mengampanyekan 3R melalui monumen sampah yang dibangun serta upaya mengurangi limbah plastik melalui penjualan isi ulang sabun dan produk lain,” ungkap Herawati.
Berbagai kegiatan itu tidak hanya ditujukan untuk mengurangi timbunan sampah. BSLM juga berupaya menumbuhkan kebiasaan masyarakat untuk menggunakan kembali barang, memilah sampah, serta mengurangi konsumsi produk yang menghasilkan limbah plastik.
Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak berhenti pada kegiatan pengumpulan dan pembuangan, tetapi berkembang menjadi aktivitas produktif yang membuka peluang pemanfaatan material bekas.
Pupuk Organik Pangkas Pemakaian Urea, Hasil Panen Meningkat
Sementara itu, Poktan Tani Harapan mengembangkan inovasi di sektor pertanian dengan memanfaatkan limbah organik rumah tangga dan sisa pertanian sebagai bahan baku kompos.
Salah satu teknologi yang digunakan adalah pembuatan kompos dengan metode “Bata Bolong”, yang juga diikuti upaya pemasaran produk. Pada 2026, kelompok tani tersebut mengembangkan produksi Pupuk Organik Cair (POC) dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) untuk membantu meningkatkan kesuburan sekaligus memulihkan kondisi tanah.
Manfaat penerapan pupuk organik tersebut dirasakan langsung oleh petani. Sekretaris Poktan Tani Harapan, Subari, mengungkapkan penggunaan pupuk organik yang dikombinasikan dengan POC dan PGPR membantu mengurangi kebutuhan pupuk urea sekaligus meningkatkan produktivitas sawahnya.
“Dengan mengaplikasikan pupuk Bata Bolong, POC, dan PGPR, sawah saya yang luasnya setengah hektare dulunya saya pakai urea 12 kuintal, sekarang cukup 8 kuintal saja dengan produktivitas meningkat menjadi 3–3,5 ton per setengah hektare dari sebelumnya yang hanya 2–2,5 ton per setengah hektare,” ungkap Subari.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana pengelolaan limbah dan pemanfaatan sumber daya lokal dapat dikaitkan langsung dengan kebutuhan petani. Selain mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, penggunaan bahan organik juga diarahkan untuk memperbaiki kondisi tanah dalam jangka panjang.
Kunci Keberhasilan Ada pada Kebutuhan Masyarakat
Sekretaris Bidang Pengabdian Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jember (LP2M UNEJ), Ali Badrudin, menegaskan bahwa keberhasilan program pemberdayaan tidak bisa dilepaskan dari kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan kelompok masyarakat.
Menurut dia, semangat kolaborasi perlu terus dijaga agar program yang dijalankan tidak berhenti ketika masa pendampingan berakhir.
“Setiap program selalu berbasis kolaborasi. Desa binaan atau mitra semakin semangat, UNEJ akan semakin melipatgandakan semangatnya,” papar Ali.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!