BI Turunkan GWM 2 Persen, Ini Strategi Jaga Likuiditas dan Dorong Kredit
📅 Jumat, 23 Okt 2026, 17:47 WIB | Oleh: Tim PenulisJakarta - Bank Indonesia (BI) memastikan penurunan giro wajib minimum (GWM) secara rata-rata sebesar 2 persen tidak akan memicu likuiditas yang berlebihan di pasar karena dilakukan secara terukur untuk menyeimbangkan likuiditas perbankan, kata Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter BI Firman Mochtar di Jakarta, Jumat (23/10).
Kebijakan ini juga disertai penyesuaian suku bunga deposit facility (DF rate) guna memperkuat transmisi kebijakan moneter.
“Apakah ini (penurunan GWM) akan mendorong likuiditas berlebihan? Hitungan kita, tidak. Kami selalu menghitung, ‘Berapa uang yang beredar di masyarakat yang seharusnya terjadi? Berapanya itu dihitung atas inflasinya harus tetap dalam kisaran, PDB (produk domestik bruto)-nya yang konsisten dengan inflasi. Jadi itu bagaimana kita mencoba merangkai strategi GWM-nya,” kata Firman.
Secara umum, BI menyatakan kebijakan penurunan GWM dan kenaikan suku bunga deposit facility (DF rate) ditujukan sebagai strategi harmonisasi dan sinkronisasi kebijakan operasi moneter.
Hal ini diharapkan agar stance BI yang tecermin dari BI-Rate dapat selaras dengan kondisi likuiditas dan pergerakan suku bunga pasar uang.
BI menegaskan, penurunan GWM dilakukan secara terukur sehingga kondisi likuiditas menjadi seimbang dengan level BI-Rate serta inflasi sesuai target dan pertumbuhan ekonomi.
Secara lebih rinci, Firman menjelaskan penyeimbangan likuiditas diperlukan di tengah pertumbuhan kredit yang tinggi serta strategi penempatan dana pemerintah di perbankan.
Langkah ini bertujuan memastikan kondisi likuiditas tetap selaras dengan stance kebijakan moneter yang tercermin dalam BI-Rate, sehingga transmisi kebijakan moneter dapat berlangsung lebih efektif.
Penurunan GWM sebesar 1 persen diperkirakan memberikan tambahan likuiditas sekitar Rp90 triliun kepada perbankan. Ditambah dengan adanya insentif dari Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), maka hal ini dinilai memberikan fleksibilitas lebih besar bagi bank dalam memanfaatkan likuiditas untuk mendukung penyaluran kredit.
Di sisi lain, kenaikan DF rate menjadi 5 persen merupakan bagian strategi operasi moneter BI agar pergerakan suku bunga INDONIA bergerak simetris.
Dengan BI-Rate dan suku bunga lending facility (LF rate) tetap masing-masing 5,75 persen dan 6,5 persen serta DF rate naik ke 5 persen, maka DF rate kini berada 75 basis poin di bawah BI-Rate dan LF rate juga berada 75 basis poin di atas BI-Rate.
Melalui koridor yang simetris tersebut, jelas Firman, BI berharap pelaku pasar memiliki acuan yang lebih jelas mengenai rentang pergerakan suku bunga pasar uang antarbank (PUAB), termasuk INDONIA, terhadap BI-Rate.
Firman juga menegaskan, penurunan GWM dan kenaikan DF rate bukanlah kebijakan yang saling bertentangan. Penurunan GWM ditujukan untuk menyeimbangkan likuiditas, sedangkan penyesuaian DF rate diarahkan untuk memperjelas koridor suku bunga operasional.
Dengan likuiditas yang lebih seimbang dan koridor suku bunga yang simetris, transmisi BI-Rate ke suku bunga pasar uang diharapkan menjadi lebih efektif, sebelum diteruskan ke perbankan, kegiatan ekonomi, dan sasaran inflasi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!