Riset: Produk Kecantikan Premium dengan Harga Terjangkau Makin Diminati di E-Commerce
Jumat, 16 Okt 2026, 21:45 WIB | Oleh: Haryo BronoData ini menunjukkan bahwa meskipun peluang memasuki pasar kecantikan digital terbuka bagi pemain baru, brand yang telah memiliki basis pelanggan tetap memegang peranan besar dalam perkembangan industri.
Di sisi lain, kemampuan menawarkan formulasi premium pada harga kompetitif menjadi salah satu strategi yang dapat membantu pendatang baru menarik perhatian konsumen.
Suplemen Kecantikan Mempertemukan Industri Beauty dan Wellness
Kecenderungan konsumen terhadap produk berkualitas dengan harga terjangkau juga terlihat pada kategori kesehatan. Nilai transaksi kategori healthcare di e-commerce mencapai Rp12,3 triliun pada semester I 2026, tumbuh 24,4 persen secara tahunan.
Suplemen makanan menjadi kontributor terbesar dengan pangsa 49,5 persen atau senilai Rp6,1 triliun.
Sementara itu, subkategori suplemen kecantikan atau beauty supplements mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi, yakni 41 persen secara tahunan, dengan nilai transaksi mencapai Rp1,37 triliun.
Volume penjualan kategori tersebut meningkat 79 persen menjadi 14 juta unit. Pada saat yang sama, harga rata-rata produk turun 21 persen, dari Rp124.000 menjadi Rp98.000.
Penurunan harga tersebut membuat produk suplemen kecantikan semakin dekat dengan rentang harga yang umum ditemui pada produk kecantikan lokal. Perkembangan ini memperlihatkan semakin eratnya hubungan antara industri kecantikan dan kesehatan melalui tren beauty-to-wellness.
Reseller Tumbuh Lebih Cepat di Kategori Kecantikan
Selain harga, kanal distribusi turut memengaruhi persaingan di pasar digital. Kategori kecantikan menjadi satu-satunya sektor FMCG dalam riset tersebut yang mencatatkan dominasi toko resmi atau Official Store, dengan pangsa pasar mencapai 54 persen.
Meski demikian, brand kecantikan yang memiliki porsi penjualan lebih besar melalui reseller justru tumbuh lebih cepat, yakni 17,7 persen. Sebaliknya, brand yang lebih mengandalkan Official Store tumbuh 10,1 persen.
Compas.co.id menduga perbedaan tersebut berkaitan dengan harga yang ditawarkan reseller, yang dalam sejumlah kasus lebih murah dibandingkan toko resmi. Namun, data tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa harga merupakan satu-satunya faktor yang mendorong perbedaan pertumbuhan.
Kondisi berbeda terlihat pada kategori kesehatan. Brand yang berfokus pada Official Store mencatatkan pertumbuhan 15,4 persen, lebih tinggi dibandingkan brand yang mengandalkan reseller, yang tumbuh 14 persen.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa strategi distribusi perlu disesuaikan dengan karakteristik kategori produk dan perilaku konsumennya.
Persaingan Shopee dan ShopTokopedia Semakin Ketat
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!