“Exosome Drug Delivery”: Kurir Molekuler yang Membawa Obat Menembus Batas Tubuh
Rabu, 07 Okt 2026, 07:23 WIB | Oleh: Haryo BronoSejauh ini, teknologi tersebut masih berada dalam tahap pengembangan klinis. Tantangan biologis dan manufakturnya belum terselesaikan sepenuhnya.
Dari Laboratorium ke Uji Klinis
Perkembangan penelitian eksosom memang berlangsung cepat, tetapi jumlah uji klinis yang besar tidak otomatis berarti teknologi tersebut sudah siap digunakan sebagai terapi rutin. Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan pada 2024 mengidentifikasi 471 uji klinis yang berkaitan dengan extracellular vesicles dalam basis data publik.
Studi tersebut menemukan bahwa sebagian besar penelitian EV berkaitan dengan diagnostik dan companion diagnostics, sementara uji terapi lebih banyak menggunakan EV yang berasal dari sel stroma mesenkimal atau MSC.
Analisis lain yang diterbitkan pada 2026, dengan menelusuri ClinicalTrials.gov hingga akhir 2025, mengidentifikasi 355 uji klinis menggunakan extracellular vesicles yang berasal dari manusia. Studi tersebut mencakup EV yang digunakan baik sebagai biomarker maupun sebagai intervensi terapeutik.
Angka tersebut menunjukkan betapa luasnya aktivitas penelitian di bidang EV. Namun, istilah EV mencakup kelompok vesikel yang lebih luas daripada eksosom. Karena itu, angka tersebut tidak dapat begitu saja disebut sebagai jumlah uji klinis exosome drug delivery.
Perbedaan klasifikasi ini penting dalam pemberitaan karena sebagian studi menggunakan istilah extracellular vesicles, sebagian menggunakan exosomes, dan tujuan penelitiannya pun berbeda—mulai dari diagnostik, biomarker, terapi berbasis EV, hingga penghantaran obat.
Yang lebih penting, sebagian besar penelitian tersebut masih berupaya menjawab pertanyaan dasar mengenai keamanan, dosis, mekanisme kerja, distribusi dalam tubuh, serta efektivitas.
Membuat Eksosom dalam Jumlah Besar
Di laboratorium, menghasilkan eksosom dalam jumlah tertentu mungkin dapat dilakukan. Persoalannya berubah ketika peneliti harus membuat produk obat dalam skala industri. Eksosom dihasilkan oleh sel; artinya, produsen harus menentukan jenis sel yang digunakan, kondisi pertumbuhan, media kultur, waktu pemanenan, metode pemurnian, hingga cara penyimpanan.
Perubahan kecil dalam proses tersebut dapat memengaruhi karakteristik produk akhir. Sebuah tinjauan mengenai manufaktur eksosom terapeutik menjelaskan bahwa tantangan mencakup pengembangan lini sel, kultur sel, proses pemurnian, formulasi, penyimpanan, serta penerapan fasilitas yang memenuhi prinsip Good Manufacturing Practice atau GMP.
Para peneliti juga menekankan bahwa belum terdapat konsensus yang cukup mengenai pedoman manufaktur terapi eksosom. Masalahnya bukan sekadar menghasilkan jumlah yang banyak, melainkan produk dari satu batch harus cukup konsisten dengan batch berikutnya.
Jika eksosom yang diproduksi hari ini memiliki komposisi atau aktivitas berbeda dengan eksosom yang dibuat beberapa minggu kemudian, bagaimana peneliti dapat memastikan pasien mendapatkan terapi dengan dosis dan karakteristik yang sama? Pertanyaan ini menjadi sangat penting ketika eksosom mulai diposisikan sebagai obat biologis.
Apa Sebenarnya Isi “Kurir” Itu?
Masalah berikutnya adalah karakterisasi. Eksosom bukan molekul tunggal dengan struktur sederhana, melainkan vesikel biologis yang membawa berbagai komponen. Karena itu, peneliti perlu mengetahui setidaknya apa yang terdapat dalam produk, seberapa murni produk tersebut, berapa banyak partikel yang diberikan, bagaimana aktivitas biologisnya, dan apakah karakteristiknya tetap stabil selama penyimpanan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!