Kebijakan Fiskal Kerap Tidak Jelas dan Inkonsistensi
📅 Selasa, 22 Sep 2026, 03:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi» Pasar merupakan bagian yang tidak terhindarkan dalam perekonomian nasional, makanya. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dengan mengabaikan keberadaan sektor swasta.
JAKARTA - Pemerintah khususnya Kementerian perlu mendorong penguatan aturan main atau rulebook penggunaan instrumen fiskal agar tujuan, jangka waktu, pembagian risiko, serta mekanisme keluarnya setiap kebijakan semakin jelas.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan rulebook penting agar jelas tata kelola instrumen ekonomi yang dimiliki pemerintah, termasuk pihak yang menggunakan, berapa lama pelaksanaannya serta bagaimana exit mechanism-nya.
Indonesia kata Fakhrul telah memiliki beragam instrumen dan neraca ekonomi, mulai dari APBN dan Saldo Anggaran Lebih (SAL) hingga bank BUMN, BUMN, Danantara, kebijakan perpajakan, serta berbagai instrumen pembiayaan. Tahapan berikutnya adalah memperjelas urutan kebijakan, sasaran, serta pembagian fungsi dan risiko agar setiap instrumen digunakan oleh institusi yang paling mampu mengelolanya.
Misalnya kebijakan penempatan dana SAL sebesar 200 triliun rupiah pada bank-bank milik negara. Kementerian Keuangan memastikan kebijakan tersebut tetap dilanjutkan hingga Juli 2027.
Dengan pemanfaatan neraca pemerintah yang terarah diharapkan akan menarik lebih banyak pembiayaan swasta sehingga dukungan negara menjadi pemicu kegiatan ekonomi, bukan menggantikan peran swasta secara permanen.
Sebab itu, APBN kata Fakhrul tetap memiliki peran penting sebagai peredam guncangan ekonomi, termasuk ketika terjadi tekanan pada harga energi. Dari sisi perpajakan, Fakhrul menilai kepastian pembayaran restitusi juga merupakan bagian dari kredibilitas fiskal karena pengembalian kelebihan pembayaran pajak berkaitan langsung dengan likuiditas dunia usaha.
Tetap Dalam Koridor
Pada kesempatan terpisah, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Aulia Falianty sepakat dengan adanya rule untuk disiplin fiskal. “Jadi siapa pun pemimpinnya rule fiskal ini akan membantu kita tetap berada dalam koridor,”tegasnya.
Dia mengingatkan pentingnya menjaga disiplin fiskal untuk menghindari krisis fiskal dan krisis utang. Jika disiplin fiskal lemah, maka pengelolaan fiskal menjadi tidak berkelanjutan dan berisiko memicu krisis secara menyeluruh.
“Kalau disiplin fiskal lemah, nanti fiskal kita cenderung tidak berkelanjutan bisa terjadi krisis, krisis hutang, krisis bunga hutang pokoknya krisis fiskal,” kata Telisa.
Ia mencontohkan kasus Yunani yang mengalami kebangkrutan akibat tidak menerapkan disiplin fiskal. Akibatnya, Yunani harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran dan meminjam kepada European Central Bank (ECB) serta Dana Moneter Internasional (IMF).
“Yunani itu kan tanpa ada disiplin fiskal, dia mengalami kebangkrutan istilahnya dia akhirnya harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran kemudian dia pinjam ke ECB, IMF dan lain sebagainya jadi dalam pengawasan IMF dan ECB,” jelasnya.
Telisa menegaskan, fiskal yang tidak berkelanjutan akan merambat ke berbagai sektor. Pertumbuhan ekonomi akan terhambat, kepercayaan pasar menurun, sovereign rating tertekan, hingga memicu capital outflow.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!