Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Mahasiswa PTS Terus Menurun, DPD RI Desak PTN Batasi Kuota Sesuai Kapasitas

📅 Jumat, 16 Okt 2026, 20:18 WIB | Oleh: Tim Penulis
Mahasiswa PTS Terus Menurun, DPD RI Desak PTN Batasi Kuota Sesuai Kapasitas Doc: Antara
Ket. Anggota Komite III Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Muhdi.

Semarang - Anggota Komite III Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Muhdi menekankan perguruan tinggi negeri (PTN) untuk membatasi kuota penerimaan mahasiswa baru sesuai dengan kemampuan kampus tersebut.

"Saya kira ini keluhan perguruan tinggi swasta (PTS) di mana-mana bahwa perguruan tinggi negeri banyak yang menerima mahasiswa berlebihan atau melampaui kapasitas," katanya di Semarang, Jumat (16/10).

Muhdi belum lama ini mengumpulkan jajaran pimpinan PTS di Jawa Tengah untuk membahas dampak perubahan desil penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP), termasuk membahas berbagai tantangan yang dihadapi.

Di antara 10 PTS tersebut, yakni Universitas PGRI Semarang (Upgris), Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Universitas Semarang (USM), Universitas Ngudi Waluyo, dan Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman (Undaris).

Sebagai mantan rektor PTS, ia memahami bagaimana sulitnya PTS saat ini untuk mencari mahasiswa baru, seiring dengan banyaknya kuota mahasiswa baru yang dibuka PTN.

Apalagi, kata dia, PTN juga membuka jalur penerimaan mandiri yang semakin mempersempit pembagian kue calon mahasiswa baru bagi PTS.

"Pemerintah ketat mungkin untuk jalur penerimaan non-mandirinya, tetapi kalau jalur mandirinya dilepas, sama saja," katanya.

Menurut dia, berapapun PTN membuka kuota penerimaan jalur mandiri, sebenarnya animo masyarakat mungkin ada.

Akan tetapi, kata dia, pada sisi yang lain, PTS kehilangan peluang untuk mendapatkan mahasiswa yang semestinya, terlebih lagi di era ekonomi yang tidak begitu bagus seperti saat ini.

"Jumlah lulusan bisa saja meningkat, tapi jumlah yang masuk ke perguruan tinggi bisa jadi menurun," kata mantan Rektor Upgris tersebut.

Ia mengatakan bahwa jumlah mahasiswa di PTS saat ini rata-rata mengalami penurunan, bahkan ada yang turunnya sangat drastis karena "jatah kuenya" semakin banyak terbagi dengan PTN.

"Saya kira tadi masukan dari teman-teman adalah mestinya pemerintah ketat memberikan kuota sesuai student body-nya, sesuai batas kemampuannya," katanya.

Jangan kemudian PTN berlomba membangun ruang perkuliahan baru atau merekrut dosen baru demi menambah daya tampung mahasiswa baru.

"Ini kan jadi kayak PTS saja gitu ya. Kalau negeri (PTN) tidak begitu, tapi sebaliknya. PTN harus menjaga kualitasnya dengan mengukur kemampuan menerima mahasiswanya," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Advertisement
jjroyal-luwak
Ekonomi
Mulai 25 Oktober, UMKM Dapa...
Nasional
Ada Korupsi Ratusan Miliar ...

BMKG Pastikan Kabut Asap di Aceh Berasal dari karhutla

1.5 jam yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
BMKG Pastikan Kabut Asap di...
Advertisement
10 Event Jakarta Akhir Pekan 17-18 Oktober: Ada Synchronize Festival hingga BABYMONSTER

10 Event Jakarta Akhir Pekan 17-18 Oktober: Ada Synchronize Festival hingga BABYMONSTER

16 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.