Bukan Sekadar Pelatihan! IKA Unair Bangkalan Gembleng Ratusan Orang Jadi Penulis
📅 Senin, 21 Sep 2026, 02:06 WIB | Oleh: Marcellus WidiartoBANGKALAN - Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA UNAIR) Cabang Bangkalan, menggembleng sekitar 100 orang tentang ketajaman membaca persoalan dan kemampuan menyampaikan gagasan menjadi tulisan pada kegiatan 'Write to Publish/ Dari Ide Menjadi Artikel yang Layak Tayang' di Bangkalan, Jawa Timur, Minggu.
Mengusung tema "Empat Jam Mengasah Pena, Menembus Media”, kegiatan tersebut tidak sekadar mengajarkan teknik merangkai kalimat. Peserta langsung digembleng melalui praktik menemukan ide, menentukan sudut pandang atau angle, mengolah bukti, menyusun tulisan, hingga melakukan penyuntingan.
Ketua Panitia, Masturah, mengatakan sekitar 100 peserta mendaftar dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari beragam latar belakang.
Format pelatihan sengaja dikemas dengan praktik agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi mampu menghasilkan rancangan tulisan yang dapat dikembangkan menjadi artikel utuh.
Dua narasumber dihadirkan dalam kegiatan tersebut. Mereka Direktur Institute for Strategic and Political Studies (INTRAPOLS) Bustomi, penulis aktif di sejumlah media massa dan pengurus LTN PWNU Jawa Timur, serta Mohammad Tojjib General Manager Jawa Pos Radar Madura periode 2013-2020 dan kini menjadi Direktur Utama Madura Indepth.
Pada sesi Bustomi, peserta diajak melihat bahwa kemampuan menulis tidak dimulai dari mencari kalimat pembuka, melainkan dari kemampuan menemukan persoalan yang layak diangkat.
Peserta diminta menggali ide dari berbagai sumber, mulai dari peristiwa, masalah, data, pengalaman, kontradiksi hingga perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar.
Setelah menghasilkan sejumlah gagasan, peserta kemudian memilih satu ide yang dinilai paling kuat untuk dikembangkan.
Hasil praktik tersebut melahirkan Dra. Siti Aminah, dari Muslimat NU Bangkalan sebagai peserta dengan ide terbaik (best idea) pada sesi Bustomi.
Bagi peserta, proses tersebut menjadi latihan untuk tidak sekadar memiliki pendapat, tetapi mampu mengidentifikasi persoalan dan menentukan bagian mana yang paling penting untuk disampaikan kepada pembaca.
Bustomi juga memperkenalkan alur kerja mulai dari ide lalu angle, memperkuat tulisan dengan bukti dan terakhir menjadi naskah utuh yang "bercerita". Ide, lanjut pria dari Desa Mandung Kokop itu, harus dipertajam menjadi sudut pandang tertentu, kemudian diperkuat dengan bukti sebelum disusun menjadi cerita yang mudah diikuti pembaca.
Tahapan berikutnya dipandu Mohammad Tojjib. Peserta diajak mengubah gagasan menjadi rancangan artikel melalui praktik membuat judul, lead atau pembuka tulisan, dan outline atau kerangka tulisan.
Materi Tojjib menempatkan proses menulis dalam tiga tahap utama, yakni perencanaan, penulisan draf, dan penyuntingan. Struktur artikel mencakup judul, alinea pembuka, batang tubuh, dan alinea penutup.
Dari praktik tersebut, Habiburokhman dari FEB Unair terpilih sebagai peserta dengan judul dan headline terbaik (best title and healine article). Sementara Kolonel CPM Moh. Sawi meraih kategori outline terbaik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!