Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tembus 151 Kasus! DP3APPKB Bantul Bongkar Fenomena Kekerasan Perempuan dan Anak

📅 Senin, 21 Sep 2026, 02:40 WIB | Oleh:
Tembus 151 Kasus! DP3APPKB Bantul Bongkar Fenomena Kekerasan Perempuan dan Anak Doc: ANTARA/Rahma
Ket. Ilustrasi - Aksi teatrikal kampanye Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak.

YOGYAKARTA - Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) menangani 151 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak berdasarkan data terakhir yang dihimpun hingga akhir Juli 2026.

Kepala Bidang Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan DP3APPKB Tatik Windarti, di Bantul, Minggu, mengatakan data tersebut hanya mencakup kasus yang dilaporkan dan kemungkinan jumlah sebenarnya lebih tinggi karena tidak semua laporan masuk ke dinas.

"Kita berharap sampai akhir tahun ini tidak terjadi lonjakan," katanya.

Ia menjelaskan, dari 151 korban tersebut, sebanyak 63 merupakan anak-anak dan 88 lainnya merupakan perempuan.

"Dari kelompok korban perempuan, sebanyak 21 orang berusia 18-24 tahun dan 69 orang berusia 25-29 tahun," ujarnya.

Menurut dia, kejadian kekerasan terhadap anak dan perempuan cenderung banyak ditemukan di wilayah perkotaan, seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

"Ini di wilayah Bantul yang perkotaan, Banguntapan, Sewon, Kasihan, dan juga Kapanewon Bantul," katanya.

Ia menyebut kekerasan yang mengarah pada aspek psikis lebih dominan ditemukan, seperti data pada 2024 yang mencatat dari total 209 kasus, sebanyak 84 kasus di antaranya merupakan kekerasan psikis.

"Tahun 2025 itu dari 213 kasus yang tercatat, 76 kasus masuk kategori kekerasan psikis. Sedangkan hingga Juli tahun ini, dari 151 kasus yang telah ditangani, sebanyak 47 kasus merupakan kekerasan psikis," ujarnya.

Menurut dia, bentuk kekerasan fisik dapat berupa ancaman hingga tindakan yang menyebabkan seseorang mengalami tekanan psikologis, bahkan di antaranya dapat mempengaruhi perubahan perilaku korban.

"Bisa berubah perilakunya, menyendiri, bahkan bisa menyakiti diri sendiri," katanya.

Ia menilai perkembangan teknologi informasi berpotensi membuka ruang terjadinya kekerasan, seperti melalui media sosial yang memunculkan cyberbullying atau perundungan siber.

"Kekerasan yang bermula dari ruang digital dapat berkembang menjadi berbagai bentuk kekerasan, baik fisik maupun psikis," ujarnya.

Dampak kekerasan psikis, lanjut dia, dapat menyebabkan korban mengalami trauma, takut, merasa terancam, dan selalu cemas hingga menyebabkan perubahan perilaku sehari-hari.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...
  • Bahlil Pasang Rem Industri Nikel, Smelter Setengah Jadi Bisa Dimoratorium
    Langkah moratorium smelter setengah jadi ini memang sudah ...
Advertisement
Saldo Tabungan Masyarakat Menyusut, Fenomena “Mantab” Jadi Sorotan

Saldo Tabungan Masyarakat Menyusut, Fenomena “Mantab” Jadi Sorotan

10 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.