Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kongres AS Terbelah Hadapi Ancaman AI, Perlombaan dengan Tiongkok Jadi Sorotan

📅 Selasa, 15 Sep 2026, 06:30 WIB | Oleh: Tim Penulis

Johnson justru mendorong Kongres untuk berdialog dengan para pimpinan perusahaan AI, sebuah gagasan yang disebutnya telah dia sampaikan kepada Trump.

Sikap tersebut membuatnya berseberangan dengan anggota DPR dari Florida, Anna Paulina Luna, yang juga berasal dari Partai Republik dan menyerukan sidang khusus yang didedikasikan untuk AI.

Di Senat, para anggota parlemen mulai menyelidiki risiko eksistensial yang ditimbulkan teknologi tersebut serta menyusun undang-undang bipartisan yang mewajibkan perusahaan menguji dan melaporkan potensi bahaya yang dapat menimbulkan bencana.

Namun, belum ada rancangan teks undang-undang yang dipublikasikan.

Pemimpin Demokrat di DPR Hakeem Jeffries mengatakan anggota parlemen perlu "bertindak segera" dan berjanji AI akan menjadi prioritas partainya.

Namun, Demokrat juga terpecah. Senator sayap kiri Bernie Sanders menginginkan pelarangan AI supercerdas dan penghentian sementara pengembangan sistem canggih, sementara anggota lainnya mendukung langkah yang lebih terbatas seperti memperketat peninjauan keselamatan atau mewajibkan pelaporan risiko bencana.

Kongres Tertinggal

Tidak sedikit usulan yang telah diajukan di DPR. Salah satu rancangan undang-undang bipartisan akan mewajibkan pengembang sistem AI paling kuat mempertahankan kemampuan untuk memperlambat, menangguhkan, atau mematikan sistem tersebut.

Rancangan lainnya akan menetapkan kerangka kerja nasional untuk model AI canggih.

Namun, tidak ada satu pun yang tampaknya berpeluang besar menjadi undang-undang sebelum anggota parlemen meninggalkan Washington untuk berkampanye.

Washington sebenarnya tidak memulai dari nol. Pada awal Agustus, pemerintah memperkenalkan peninjauan keamanan sukarela bagi model AI canggih sebelum dirilis, meskipun parameter kebijakan tersebut masih belum jelas. Pengamat industri juga meragukan kekuatannya mengingat pemerintahan Trump cenderung memilih regulasi yang ringan.

Hambatan kelembagaan juga lebih dalam daripada sekadar perbedaan antarpartai. AI menyentuh isu keamanan nasional, lapangan kerja, energi, dan perlindungan konsumen sehingga tanggung jawabnya tersebar di berbagai komite yang jarang bergerak secara bersamaan.

"Manusia harus dapat mematikan sistem atau agen AI yang menyimpang," kata anggota DPR dari Partai Demokrat Ted Lieu kepada CNN. Ia merupakan salah satu pengusul rancangan undang-undang mengenai kemampuan untuk "mematikan" AI.

"Dan jika jawabannya adalah kita tidak bisa melakukan itu, maka lihatlah, kita mungkin sebaiknya mengemasi barang-barang kita, pergi ke sebuah pulau di Pasifik Selatan, dan menunggu kiamat."

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...
  • Bahlil Pasang Rem Industri Nikel, Smelter Setengah Jadi Bisa Dimoratorium
    Langkah moratorium smelter setengah jadi ini memang sudah ...
Nasional
CEO Microsoft Usulkan Rem D...
Daerah
Kabut Asap Tak Mengganggu K...
Olahraga
Kekompakan Taktis Pemain Ja...
Advertisement
Marco Bezzecchi Juara MotoGP Indonesia 2026, Tradisi Unik Mandalika Berlanjut

Marco Bezzecchi Juara MotoGP Indonesia 2026, Tradisi Unik Mandalika Berlanjut

11 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.