Karawo Gorontalo, Kain Ikat Tradisional yang Dibuat Sepenuhnya dengan Tangan.
📅 Selasa, 15 Sep 2026, 12:26 WIB | Oleh: Yebdi Trismar
Doc: Antara Foto
Dalam pembuatan karawo ikat, serat kain diiris dan dicabut satu per satu untuk memberi ruang bagi benang. Setelah itu, tiap helai benang diarahkan dengan hati-hati. Satu tusukan jarum belum tentu langsung menyelesaikan satu lubang pada kain. Benang dapat melewati lubang yang sama beberapa kali sebelum diikat sesuai pola hingga membentuk motif.
Semua proses dikerjakan dengan tangan. Pekerjaan ini membutuhkan ketelitian dan kesabaran karena satu kesalahan dapat mengubah pola yang sedang dibuat.
Karawo merupakan sulaman tangan khas Gorontalo yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Di Gorontalo dikenal karawo ikat dan karawo manila yang memiliki teknik pengerjaan berbeda.
Bagi Erawati Bouta, karawo ikat bukan keterampilan baru. Sejak kecil, ia belajar membuat karawo ikat dari keluarganya di rumah. Namun, ia baru menekuninya lebih serius pada 2019 dengan tujuan melestarikan karawo sekaligus menciptakan peluang ekonomi. Pada 2023, kegiatan tersebut mulai dikembangkan menjadi usaha.
Kini, empat perajin mengerjakan karawo ikat di rumah Erawati di Kabila, Kabupaten Bone Bolango. Sebagian besar sudah berusia lanjut.
Membuat satu kain karawo ikat membutuhkan waktu lama. Jika dikerjakan hampir sepanjang hari, satu kain dapat selesai sekitar sebulan. Namun, jika diselingi pekerjaan lain, prosesnya bisa mencapai tiga bulan.
Waktu pengerjaan yang panjang membuat tidak banyak orang tertarik menjadi perajin. Keterampilan yang membutuhkan ketelitian tinggi itu juga belum selalu sebanding dengan upah yang diterima perajin. Erawati membayar sekitar Rp400.000 hingga Rp450.000 untuk pengerjaan satu lembar kain.
"Supaya keterampilan mereka betul-betul dihargai," kata Erawati.

Perajin membuat karawo pada acara "Mokarawo Kolosal" yang digelar selama "Hulonthalo Art and Craft Festival (HARFEST) X" dan Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) 2026 di Kota Gorontalo, Gorontalo (12/9).
Menjaga karawo tetap terjangkau
Erawati memilih kain katun Prince dan benang jahit katun. Ia tidak menggunakan poliester, benang metalik, atau benang yang mudah rapuh karena tidak sesuai dengan teknik karawo ikat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!