Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kejar Usia Harapan Hidup 76 Tahun, Indonesia Butuh US$27 Miliar

📅 Selasa, 15 Sep 2026, 13:01 WIB | Oleh: Tim Penulis
Kejar Usia Harapan Hidup 76 Tahun, Indonesia Butuh US$27 Miliar Doc: Antara
Ket. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam acara 4th Indonesia Health Partners Meeting (IHPM) di Jakarta, Selasa (15/9).

Jakarta - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, masih dibutuhkan sekitar 26-27 miliar dolar AS untuk transformasi sistem kesehatan nasional guna meningkatkan usia harapan hidup menjadi 76 tahun dan umur harapan hidup sehat menjadi 65 tahun.

Budi mengatakan dalam 4th Indonesia Health Partners Meeting (IHPM) bahwa kedua target tersebut, yang ditetapkan oleh Presiden Prabowo Subianto, adalah untuk memastikan bahwa masyarakat Indonesia hidupnya lebih panjang dan bisa menikmati masa-masa sehatnya lebih lama.

"Tidak enak (kalau) punya hidup panjang tapi demensia di 10 tahun terakhir kehidupan Anda. Atau punya stroke yang membuat Anda tidak bisa jalan dengan benar di 10 tahun terakhir kehidupan Anda," katanya di Jakarta, Selasa (15/9).

Dia menjelaskan bahwa secara total, dibutuhkan 223 miliar dolar AS untuk transformasi itu. Dari sistem dan pemerintah, sudah disediakan sekitar 203 miliar dolar AS, dan dialokasikan 177 miliar dolar AS untuk transformasi tersebut, sehingga ada kekurangan sebesar 26-27 miliar dolar AS perlu dipenuhi dalam waktu lima tahun.

Untuk memenuhi itu, katanya, pihaknya pun berupaya membangun kepercayaan dari para mitra global dan filantropis.

Budi menyebutkan bahwa sejak awal menjabat sebagai Menteri Kesehatan, kolaborasi dengan para mitra global meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Dia mencontohkan, dalam setahun, sebanyak sekitar 300 ribu alat antropometri dibagikan ke posyandu di 7000 pulau berpenghuni.

"Kita juga berhasil membagikan 10 ribu ultrasound ke 10 ribu puskesmas. Sebelumnya, ibu-ibu hamil —hanya ada 22 persen puskesmas kita yang punya ultrasound. Bayangkan Anda mau melahirkan tapi tidak dapat ultrasound satu pun untuk mengerti kondisi kehamilan Anda," katanya.

Kemudian, mesin X-ray dibagikan ke puskesmas-puskesmas untuk melakukan skrining tuberkulosis. Harapannya, katanya, pada 2026 sebanyak 2000 X-ray bisa dikirimkan, dan pada tahun depan sebanyak 4000 X-ray bisa dikirimkan.

Selain itu, kata Budi, puskesmas kini mulai dilengkapi dengan teknologi Near Point of Care Testing (NPOCT) Terminal, yang memungkinkan puskesmas untuk mendeteksi patogen, agar dapat mengetahui apabila ada patogen atau penyakit menular.

Sebagai bagian dari transformasi kesehatan, Indonesia juga telah melaksanakan Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk mencegah keparahan akibat penyakit tak menular, serta mengembangkan tes genomik untuk memahami kondisi kesehatan demografi dan membangun langkah-langkah untuk memperpanjang angka harapan hidup.

Untuk membantu inisiatif-inisiatif tersebut, katanya, diperlukan dukungan pembiayaan dari mitra global dan filantropis.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...
  • Bahlil Pasang Rem Industri Nikel, Smelter Setengah Jadi Bisa Dimoratorium
    Langkah moratorium smelter setengah jadi ini memang sudah ...
Advertisement
Marco Bezzecchi Juara MotoGP Indonesia 2026, Tradisi Unik Mandalika Berlanjut

Marco Bezzecchi Juara MotoGP Indonesia 2026, Tradisi Unik Mandalika Berlanjut

11 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.