AS Gelar G20 di Tengah Gejolak Energi
📅 Selasa, 15 Sep 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiHouston – Amerika Serikat (AS) pada Senin (14/9) memulai serangkaian pertemuan G20 dengan mengusung isu "kelimpahan energi" (energy abundance), di tengah perang Presiden Donald Trump terhadap Iran yang terus mengganggu pasar bahan bakar global.
Pembahasan tersebut dijadwalkan berlangsung hingga Rabu (16/9) di Houston, negara bagian Texas, yang dikenal sebagai salah satu pusat industri minyak AS.
Dilansir dari AFP, Pertemuan itu dihadiri delegasi dari negara-negara dengan perekonomian terbesar di dunia, termasuk Tiongkok, India, Jepang, dan Jerman. Sejumlah negara produsen minyak utama seperti Kanada dan Arab Saudi juga dijadwalkan hadir.
Para diplomat Russia pada Sabtu (12/9) menyatakan Moskow juga akan mengirim sejumlah pejabat dalam pertemuan tersebut.
Kehadiran Menteri Keuangan Russia Anton Siluanov secara tidak terduga pada pertemuan G20 sebelumnya dua pekan lalu sempat memicu perhatian.
Para sekutu Ukraina di Eropa menyatakan kecewa atas keputusan AS mengundang Russia, yang dinilai bertentangan dengan upaya mengecualikan Moskow dari forum tersebut terkait perang di negara tetangganya.
Pertemuan di Houston berlangsung ketika harga minyak dan gas melonjak akibat perang di Timur Tengah, sementara Eropa kesulitan memenuhi fasilitas penyimpanan gas menjelang musim dingin.
Salah satu prioritas Washington sebagai tuan rumah G20 adalah memperluas akses terhadap energi yang terjangkau, andal, dan aman. Namun, pasokan energi terdampak signifikan sejak AS dan Israel menyerang Iran pada Februari.
Harga bahan bakar di AS melonjak. Harga satu galon (3,78 liter) solar bahkan mencapai rekor tertinggi dan kini rata-rata berada di level 6,2 dollar AS, menurut American Automobile Association (AAA).
Harga bensin reguler juga 44 persen lebih mahal dibandingkan sebelum perang.
Perang yang tidak populer tersebut beserta dampaknya membuat Partai Republik yang dipimpin Trump khawatir mengalami kekalahan dalam pemilihan paruh waktu (midterm elections) pada November.
Presiden AS menuduh Iran memperpanjang konflik untuk merugikannya secara politik. Trump baru-baru ini menyatakan perang tersebut akan berakhir "segera" setelah pemilu.
Trump juga menuduh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebabkan kelangkaan solar melalui serangan terhadap kilang minyak Russia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!