Impor Bahan Baku Harus Ditekan agar Surplus Dagang Tak Tergerus
📅 Senin, 05 Okt 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiPemerintah perlu melakukan pengendalian impor secara selektif sekaligus memperkuat nilai tambah dan diversifikasi produk ekspor guna menjaga ketahanan neraca perdagangan.
JAKARTA - Surplus perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 3,55 miliar dollar AS atau sekitar 63,68 triliun rupiah dinilai belum mencerminkan penguatan struktural kinerja perdagangan nasional. Di tengah surplus tersebut, impor bahan baku dan barang modal justru masih tumbuh kuat, menunjukkan kebutuhan devisa untuk menopang aktivitas produksi dan investasi tetap tinggi.
Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz mengatakan surplus Agustus lebih banyak ditopang koreksi impor secara bulanan dibandingkan percepatan ekspor. Kondisi itu membuat surplus dinilai masih rapuh.
"Surplus perdagangan Agustus memberi bantalan devisa jangka pendek, tetapi kami melihat perbaikannya masih rapuh, bukan struktural. Peningkatan surplus lebih banyak ditopang koreksi impor bulanan dibandingkan percepatan ekspor," kata Irman, sebagaimana diberitakan Antara di Jakarta.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Agustus 2026 mencapai 26,61 miliar dollar AS, naik 6,72 persen secara tahunan, sedangkan impor mencapai 23,06 miliar dollar AS atau tumbuh 19,09 persen. Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-Agustus masih surplus 7,25 miliar dollar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, pertumbuhan impor perlu menjadi perhatian. Impor bahan baku dan barang antara pada Agustus turun 11,1 persen secara bulanan, sedangkan impor barang modal turun 16 persen. Meski demikian, secara tahunan impor bahan baku dan barang antara masih tumbuh 22,5 persen, sementara barang modal meningkat 10,6 persen.
"Dengan impor bahan baku dan barang modal yang masih tumbuh kuat dibandingkan tahun lalu, kami memperkirakan aktivitas investasi akan terus menghasilkan kebutuhan impor dan devisa yang cukup besar," ujar Irman.
Dengan demikian, kenaikan impor tidak semata mencerminkan pelemahan perdagangan karena sebagian berkaitan dengan aktivitas produksi dan investasi. Namun, jika pertumbuhan impor berlangsung lebih cepat daripada ekspor dalam jangka panjang, ruang surplus perdagangan dan ketersediaan devisa dapat semakin tertekan. Data BPS menunjukkan impor Januari-Agustus 2026 tumbuh 19,84 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor sebesar 4,74 persen.
Head of Macroeconomic & Financial Market Research PermataBank Faisal Rachman memperkirakan defisit transaksi berjalan melebar menjadi 2,49 persen terhadap PDB pada 2026 dari 0,09 persen pada 2025. Ia juga memperkirakan cadangan devisa berada di kisaran 143–147 miliar dollar AS pada akhir 2026, turun dari 156,47 miliar dollar AS pada akhir 2025.
“Neraca perdagangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pada 2026, seiring agenda pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan mendorong permintaan impor yang lebih kuat, sementara permintaan global yang lebih lemah serta ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan yang masih berlangsung membebani ekspor,” kata Faisal.
Menurut dia, risiko tersebut dapat meningkat apabila harga minyak dunia terdorong ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kebutuhan impor pangan juga berpotensi meningkat apabila produksi domestik terganggu akibat fenomena El Nino.
Perluas Pasar
Sementara itu, ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin meminta pemerintah melakukan pengendalian impor secara selektif untuk mencegah surplus perdagangan nonmigas semakin tergerus.
"Surplus masih kita nikmati tetapi semakin tergerus. Jika tidak ada respons strategis, defisit (ekspor) berpotensi terjadi dalam waktu dekat," kata Wijayanto.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!