Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Rupiah Melemah 36 Poin ke Rp17.547, Investor Tunggu Data Inflasi AS

📅 Kamis, 10 Sep 2026, 18:25 WIB | Oleh:
Rupiah Melemah 36 Poin ke Rp17.547, Investor Tunggu Data Inflasi AS Doc: ANTARA
Ket. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Kamis di tengah sikap hati-hati investor menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting dari AS. Rupiah tercatat turun 36 poin atau 0,21 persen menjadi Rp17.547 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.511 per dolar AS.

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Kamis di tengah sikap hati-hati investor menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting dari AS. Rupiah tercatat turun 36 poin atau 0,21 persen menjadi Rp17.547 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.511 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan investor cenderung menahan diri sebelum menentukan posisi baru di pasar valuta asing. Pelaku pasar kini menunggu data Producer Price Index (PPI) AS yang dirilis Kamis malam dan Consumer Price Index (CPI) AS pada Jumat (11/9) malam.

“Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sikap investor yang cenderung menunggu sebelum mengambil posisi baru. Pasar saat ini menantikan rilis PPI AS pada Kamis malam dan CPI AS pada Jumat (11/9) malam,” kata Amru kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

Menurut Amru, kedua indikator tersebut menjadi perhatian pasar karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi inflasi di AS. Hasilnya juga berpotensi memengaruhi ekspektasi investor terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.

Sikap menunggu tersebut membuat aktivitas pelaku pasar menjadi lebih berhati-hati sehingga rupiah mengalami koreksi pada perdagangan kali ini. Kondisi tersebut terjadi meskipun sejumlah sentimen domestik masih memberikan dukungan terhadap mata uang Garuda.

Pelemahan rupiah juga dinilai sebagai bagian dari konsolidasi setelah mata uang tersebut mencatat penguatan cukup signifikan pada perdagangan sebelumnya. Di saat yang sama, dolar AS masih berada dalam tekanan secara umum, tetapi kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury membuat aset berbasis dolar kembali menarik bagi investor.

“Meskipun sentimen domestik masih positif dan dolar AS secara umum masih berada dalam tekanan, kenaikan yield US Treasury 10 tahun ke sekitar 4,84 persen kembali meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan menahan penguatan rupiah,” ujar Amru.

Pergerakan harga minyak juga menjadi perhatian pasar karena saat ini masih berada di atas 100 dolar AS per barel. Kenaikan harga komoditas energi tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang berpotensi memicu kekhawatiran terhadap inflasi global.

Menurut Amru, kondisi tersebut dapat memengaruhi prospek kebijakan suku bunga di berbagai negara, termasuk AS. Jika tekanan inflasi kembali meningkat, ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat dapat semakin terbuka.

Meski demikian, rupiah masih memiliki peluang untuk kembali menguat dalam jangka pendek. Amru memperkirakan mata uang Garuda akan bergerak dalam kisaran Rp17.450 hingga Rp17.600 per dolar AS.

“Dalam jangka pendek, rupiah masih berpeluang melanjutkan penguatan dan diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.450-Rp17.600 per dolar AS,” kata Amru.

Menurut dia, peluang rupiah menuju level Rp17.450 per dolar AS akan semakin terbuka apabila pelemahan dolar AS berlanjut. Sebaliknya, apabila data inflasi AS menunjukkan angka yang lebih tinggi dari perkiraan pasar, rupiah berpotensi kembali menghadapi tekanan.

Sementara itu, data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menunjukkan pergerakan berbeda dengan kurs penutupan rupiah di pasar spot. JISDOR pada Kamis tercatat menguat ke level Rp17.536 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.552 per dolar AS.

Perbedaan pergerakan tersebut menunjukkan dinamika nilai tukar dapat terlihat berbeda berdasarkan indikator dan mekanisme penentuan kurs yang digunakan. Pasar selanjutnya akan mencermati respons dolar AS dan aset keuangan global setelah data PPI dan CPI AS dirilis.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Olahraga
Strava Catat 33 Persen Akti...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Potensi Tsunami hingga 15 Meter di Cilacap, BMKG Perkuat Edukasi dan Simulasi Evakuasi

Potensi Tsunami hingga 15 Meter di Cilacap, BMKG Perkuat Edukasi dan Simulasi Evakuasi

21 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.