IHSG Hari Ini Melemah, Ikut Terseret Arus Bursa Asia Imbas Tensi AS-Iran Memanas
📅 Kamis, 10 Sep 2026, 19:05 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah mengikuti tren sejumlah bursa Asia di tengah meningkatnya tensi geopolitik Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Eskalasi konflik memicu kekhawatiran investor terhadap gangguan jalur perdagangan dan pasokan energi global, sehingga mendorong pelaku pasar mengurangi aset berisiko dan meningkatkan sikap hati-hati.
Kondisi ini berpotensi memperbesar volatilitas pasar saham domestik, terutama jika ketegangan berlanjut dan berdampak pada harga minyak serta sentimen terhadap perekonomian global.
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (10/9) sore, ditutup melemah 88,86 poin atau 1,33 persen ke posisi 6.589,34 mengikuti bursa saham kawasan Asia, dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.
Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 8,27 poin atau 1,25 persen ke posisi 655,98.
“IHSG dan bursa regional Asia melemah yang terbebani meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, yang menyebabkan melonjaknya harga minyak dan kekhawatiran inflasi, serta meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias NIco dalam kajiannya di Jakarta.
Dari mancanegara, Nico mengatakan minimnya tanda-tanda meredanya konflik antara AS dengan Iran, dilatarbelakangi oleh Iran yang menyatakan kesiapannya untuk menghadapi konflik yang lebih intens.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump memperkirakan bahwa perang tidak akan berakhir hingga setelah pemilihan umum selama bulan November 2026.
Nico mengatakan tentunya konflik tersebut akan mengganggu aliran energi melalui Selat Hormuz, sehingga akan mendorong kenaikan harga minyak dan memicu kekhawatiran inflasi.
“Pasar melihat tanda-tanda meningkatnya tekanan inflasi karena harga makanan dan energi yang lebih tinggi mendorong kenaikan biaya sehingga dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat,” ujar Nico.
Di sisi lain, pelaku pasar cenderung bersikap wait and see menjelang data inflasi AS, yang dapat mempengaruhi prospek suku bunga acuan The Fed. Merujuk CME Fedwatch probabilitas sebesar 60,2 persen kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Dari dalam negeri, pemerintah menargetkan rasio utang terhadap PDB sebesar 40,31-40,64 persen pada 2027, dengan pembiayaan dijaga pada biaya dan risiko yang terkendali. Sementara yield SBN 2027 diproyeksikan berada di kisaran 6,5-7,3 persen, dengan asumsi tengah 6,9 persen, serta pendalaman pasar SBN domestik ditargetkan mencapai 100 persen.
Kemudian, jumlah investor SBN ritel telah mencapai sekitar 1,081 juta orang, dengan penerbitan SBN ritel ditargetkan Rp160-170 triliun pada 2026, naik dari Rp152 triliun pada 2025.
“Kami menilai target rasio utang pemerintah di kisaran 40,31-40,64 persen terhadap PDB pada 2027 menunjukkan pemerintah masih berupaya menjaga keberlanjutan fiskal di tengah kebutuhan pembiayaan yang tetap besar,” ujar Nico.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!