Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
pasang iklan di koran jakarta
Ads

Bisnis Seni Pertunjukan Digarap Serius, Kemenekraf Rangkul Industri

1 Kamis, 10 Sep 2026, 23:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Bisnis Seni Pertunjukan Digarap Serius, Kemenekraf Rangkul Industri Bisnis Seni Pertunjukan Digarap Serius, Kemenekraf Rangkul Industri Doc: ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo.
Ket. Ilustrasi - Sejumlah pelajar menampilkan pertunjukan drama musikal berjudul Selat Bali saat Pentas Seni Teater Antariksa di Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar, Bali.

JAKARTA – Seni pertunjukan tidak lagi sekadar dipandang sebagai ruang ekspresi dan hiburan, tetapi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang melibatkan talenta, karya, penonton, pelaku usaha, hingga ruang pertunjukan.

Penguatan ekosistem menjadi penting agar karya seni tidak berhenti di atas panggung, melainkan mampu berkembang secara berkelanjutan, menciptakan lapangan kerja, dan menghasilkan nilai ekonomi.

Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) memperkuat kolaborasi dengan pelaku industri untuk mengembangkan ekosistem seni pertunjukan agar tidak hanya menjadi ruang ekspresi budaya, tetapi juga mampu menciptakan nilai ekonomi secara berkelanjutan.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar mengatakan kolaborasi lintas subsektor, termasuk dengan perusahaan produksi (production house/ PH), diperlukan untuk menemukan model bisnis yang dapat membuat ekosistem kreatif tumbuh secara efisien dan berkelanjutan.

"Kita perlu mencari titik temu yang memungkinkan ekosistem kreatif tumbuh secara efisien dan berkelanjutan. Bukan hanya membangun potensi yang sudah tercipta, tetapi juga memastikan model bisnis kreatif bisa berjalan," kata Irene dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (10/9).

Menurut dia, seni pertunjukan dan film memiliki ekosistem yang saling menguatkan. Seni pertunjukan dapat menjadi ruang pengembangan talenta sekaligus sumber penciptaan kekayaan intelektual (IP) yang kemudian dikembangkan ke medium lain, termasuk film.

"Dengan begitu, kita tak sekadar meningkatkan budaya publik untuk nonton teater di gedung seni pertunjukan maupun nonton film di ruang putar, tetapi juga memberikan soft landing bagi investor untuk masuk ke subsektor seni pertunjukan dan subsektor film," ujarnya.

Kolaborasi tersebut dilakukan Kemenekraf bersama Keana Film yang selama ini bergerak di bidang seni pertunjukan dan perfilman. Salah satu potensi yang dikembangkan adalah IP Laksamana Malahayati yang direncanakan bertransformasi dari pertunjukan panggung menjadi komik dan film layar lebar melalui kolaborasi internasional.

Irene menilai pengembangan IP lintas medium dapat memperpanjang nilai ekonomi sebuah karya sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi pelaku ekonomi kreatif.

"Seni pertunjukan dan film sebenarnya berada dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. Subsektor seni pertunjukan bukan hanya ruang ekspresi budaya, tetapi juga dapat menjadi sumber penciptaan IP, pengembangan talenta, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para pejuang ekraf," katanya.

Selain pengembangan IP, Kemenekraf juga mendorong pemanfaatan teknologi dan penguatan distribusi sebagai bagian dari ekosistem. Salah satunya melalui konsep Indiskop Bioskop Rakyat yang mengintegrasikan film, seni pertunjukan, budaya, dan pendidikan.

Menurut Irene, digitalisasi distribusi, penjualan tiket, serta pengelolaan yang terpusat dapat membantu menekan biaya operasional sekaligus memperluas jangkauan karya kreatif ke berbagai daerah.

Direktur Utama Keana Film Marcella Zalianty mengatakan pihaknya berfokus pada pengembangan dua spektrum ekonomi kreatif, yakni seni pertunjukan dan film.

Menurut dia, pengembangan IP lintas medium dapat menjadi salah satu cara membawa karya lokal ke pasar global.

"Keana Film bisa menjadikan suatu IP lokal go global karena konten yang universal dan pantas membawa identitas Indonesia mendunia," tutur Marcella.

Sementara itu, Keana Film juga menyiapkan sejumlah program seni dan budaya pada 2026–2027, antara lain Monolog Melati Pertiwi, Kongres Perempuan di Yogyakarta, serta CULTURA Festival di Taman Mini Indonesia Indah yang turut diarahkan untuk memberdayakan UMKM lokal.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Luar Negeri
MK Polandia Terpecah Dua, P...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Empat Tips Mengatur Pengeluaran agar Tidak Boros saat Sering Bayar Pakai QRIS

Empat Tips Mengatur Pengeluaran agar Tidak Boros saat Sering Bayar Pakai QRIS

01 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.