Wali Kota: Kuliner dan Sport Tourism Jadi Peluang Besar Gerakkan Ekonomi Bandung
📅 Sabtu, 29 Agu 2026, 16:27 WIB | Oleh: Ilham SudrajatSelain itu, Wali Kota Farhan juga menilai kreativitas menjadi kunci penting dalam pengembangan industri kuliner. Ia mencontohkan cilok, cireng dan seblak yang dahulu identik sebagai makanan sederhana dengan harga terjangkau tetapi kini telah berkembang menjadi produk kuliner yang memiliki nilai jual tinggi.
“Cilok, cireng serta seblak, zaman kita kecil adalah makanan sederhana. Tapi sekarang cireng, cilok dan seblak bisa Anda makan di pelataran Rp100 ribu sepiring,” ucap dia.
Menurut Wali Kota Farhan perubahan tersebut menunjukkan bahwa inovasi dapat mengangkat makanan lokal menjadi bagian dari daya tarik wisata. Oleh karena itu, ia mendorong para pelaku usaha kuliner tidak hanya memperkuat manajemen bisnis tetapi juga terus melakukan inovasi terhadap menu dan menghadirkan nilai tambah sebagai bagian dari kekayaan budaya Jawa Barat.
“Artinya kreativitas dari para pelaku dan anggota AKAR jangan berhenti di masalah manajemen. Tetap harus ada inovasi-inovasi yang memberikan nilai tambah kepada menunya itu sendiri sebagai bagian dari kekayaan budaya kita,” kata dia.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, mengatakan kuliner memiliki peran jauh lebih besar daripada sekadar urusan makanan dan minuman.
Menurut dia, sektor kuliner berkaitan erat dengan ekonomi, lapangan pekerjaan, pariwisata, budaya hingga identitas Jawa Barat.
“Kalau kita bicara kuliner sebenarnya kita bukan hanya berbicara soal makanan dan minuman. Kita sedang bicara tentang ekonomi, lapangan pekerjaan, pariwisata, budaya serta identitas Jawa Barat,” ujar Erwan.
Ia menyebut Jawa Barat memiliki modal besar berupa kekayaan kuliner dari 27 kabupaten/kota, mulai dari nasi timbel, karedok, lotek, batagor, surabi, peuyeum hingga seblak.
Erwan berharap kepengurusan AKAR Jawa Barat periode 2026–2031 mampu menghadirkan lebih banyak inovasi sekaligus memperkuat branding kuliner lokal.
Ia juga meminta organisasi tersebut tidak menjadi kartel, melainkan menjadi penggerak ekosistem usaha kuliner yang sehat dan kompetitif.
“Silakan dari manapun, siapapun untuk berusaha di Jawa Barat. Silakan untuk berinvestasi di Jawa Barat. Tetapi tetap saya tekankan karyawannya harus warga Jawa Barat dan makanannya pun harus yang berciri khas Jawa Barat,” tutur dia.
Erwan menambahkan, peluang kuliner Jawa Barat semakin besar seiring meningkatnya akses transportasi dari Jakarta menuju Bandung. Banyak warga Jakarta kini sengaja datang ke Bandung hanya untuk menikmati kuliner.
“Kita harus menangkap peluang-peluang itu. Tantangan kita hari ini dan ke depan adalah bagaimana makanan yang enak ini naik kelas menjadi bisnis yang kuat. Bagaimana kuliner lokal bisa memiliki branding yang kuat,” kata dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!