Padang Pariaman Ubah Pola Tani, Agroekologi Jadi Senjata Kedaulatan Pangan
📅 Senin, 17 Agu 2026, 21:15 WIB | Oleh: Tim PenulisPARIAMAN – Sistem pertanian agroekologi semakin relevan di tengah tantangan perubahan iklim, degradasi lahan, dan kebutuhan menjaga produktivitas pangan.
Pendekatan ini tidak hanya mengejar hasil panen, tetapi juga mengoptimalkan hubungan antara tanaman, tanah, air, lingkungan, dan kehidupan petani dalam satu ekosistem.
Agroekologi mendorong praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya lokal, menjaga kesuburan tanah, mengurangi ketergantungan pada input kimia, serta mempertahankan keanekaragaman hayati.
Dengan pengelolaan yang tepat, sistem ini dapat membantu petani membangun usaha tani yang lebih tangguh menghadapi perubahan kondisi lingkungan.
Lebih dari sekadar metode bercocok tanam, agroekologi menawarkan cara pandang baru bahwa peningkatan produksi pangan harus berjalan seiring dengan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan petani.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karena itu, pengembangannya menjadi penting untuk membangun sistem pangan yang produktif, adaptif, dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Petani yang tergabung dalam Basis Serikat Petani Indonesia (SPI) Sakayan Jauah, Korong Balah Aie, Nagari Anduriang, Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar) menerapkan sistem pertanian agroekologi sebagai upaya mewujudkan kedaulatan pangan.
"Implementasi agroekologi adalah salah satu wujud kemerdekaan petani dari ketergantungan terhadap sistem agribisnis yang memperbodoh petani. Tujuannya adalah menjadikan petani lebih berdaulat dan mewujudkan pertanian yang rahmatan lil alamin," kata Ketua Dewan Pimpinan Wilayah SPI Sumbar Rustam Effendy seperti yang diterima di Padang Pariaman, Senin (17/8).
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia mengatakan penerapan agroekologi merupakan salah satu bentuk upaya petani membangun kemandirian sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sistem pertanian yang menggunakan input dari luar.
Dalam penerapan agroekologi tersebut, lanjutnya petani tidak menggunakan bahan kimia pabrikan untuk budidaya tanaman melainkan memanfaatkan pupuk organik yang diproduksi secara mandiri di antaranya bokashi dan pupuk organik cair (POC) dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Menurut dia, dengan konsep tersebut maka petani kembali menguasai pengetahuan dan proses produksi pertanian, mulai dari pengelolaan lahan, produksi benih hingga pengolahan pupuk secara mandiri.
Dengan demikian, kata dia petani tidak hanya berperan sebagai pengguna sarana produksi pertanian tetapi juga memiliki kemampuan untuk memenuhi sebagian kebutuhan produksinya secara mandiri sehingga terbentuk Kawasan Daulat Pangan.
Ia menyampaikan pada Minggu kemarin telah dilakukan panen perdana penerapan sistem agroekologi tersebut. Padi yang dipanen merupakan hasil budidaya yang ditanam pada 30 April 2026 atau bertepatan dengan deklarasi Kawasan Daulat Pangan (KDP) di wilayah tersebut.
Ia menyebutkan hasil pengamatan pada sejumlah sampel tanaman padi yang menunjukkan rata-rata setiap rumpun menghasilkan 33 batang. Jumlah batang paling sedikit mencapai 17 batang sedangkan terbanyak mencapai 45 batang per rumpun.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!