Indonesia–Australia Perkuat Pendidikan Perubahan Iklim melalui Gim Edukatif GenerAksi
📅 Senin, 17 Agu 2026, 18:45 WIB | Oleh: Haryo BronoKegiatan ini memperlihatkan potensi metode kids teaching kids, di mana siswa tidak hanya menjadi penerima materi, tetapi juga berperan sebagai fasilitator bagi teman sebayanya. Dalam pendekatan ini, siswa berkesempatan menjadi pencerita sekaligus penggerak aksi iklim di lingkungan mereka.
Kepala Sekolah Harkaway Primary School, Leigh Johnson, mengapresiasi kemitraan ini karena memberikan kesempatan bagi siswa untuk memahami bahwa tantangan perubahan iklim merupakan isu global.
“Kemitraan antarsekolah memberikan kesempatan berharga bagi siswa untuk memahami bahwa tantangan iklim dan bencana mungkin terlihat berbeda di setiap negara, tetapi pada dasarnya merupakan kepedulian bersama,” kata Leigh.
Ia melihat potensi besar untuk memperluas kerja sama ini melalui kegiatan praktis, refleksi bersama, serta pertukaran pendidik secara virtual maupun bentuk kolaborasi lainnya di masa depan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Memperluas Pembelajaran Inklusif
Aspek inklusivitas menjadi fokus utama dalam pengembangan GenerAksi. Materi pembelajaran dirancang agar dapat diakses oleh siswa dengan latar belakang dan kebutuhan yang beragam, termasuk penyandang disabilitas. Hal ini krusial mengingat dampak perubahan iklim dan bencana dirasakan oleh seluruh kelompok masyarakat.
Melalui pengembangan materi, pelatihan pendidik, dan kemitraan lokal, GenerAksi diarahkan untuk memperluas pemahaman bahwa pendidikan iklim tidak hanya sebatas perubahan suhu atau emisi karbon, melainkan mencakup adaptasi, mitigasi, kesiapsiagaan bencana, ketangguhan, dan aksi komunitas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menjadikan Sekolah sebagai Ruang Aksi Iklim
Pengembangan GenerAksi memperlihatkan bahwa isu perubahan iklim kini ditempatkan sebagai bagian integral dari agenda pendidikan. Melalui sekolah, pengetahuan iklim dapat ditanamkan sejak dini dan diterjemahkan ke dalam tindakan nyata sehari-hari.
Bagi Indonesia dan Australia, kerja sama ini membuka ruang saling belajar dari perbedaan kondisi geografis dan risiko bencana. Hasil kunjungan pembelajaran ini diharapkan dapat memperluas kolaborasi melalui pertukaran antarsekolah, pengembangan sumber belajar bersama, penguatan jejaring pendidik, serta penelitian kelembagaan.
Suharti kembali menegaskan pentingnya menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini.
“Pendidikan perubahan iklim sangat penting ditanamkan sejak dini sebagai upaya membangun kesadaran, pengetahuan, dan tindakan nyata untuk mengurangi dampak perubahan iklim di masa depan,” kata Suharti.
Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, sekolah, guru, peneliti, organisasi masyarakat, dan siswa menjadi kunci utama dalam membangun pendidikan perubahan iklim yang berkelanjutan. Melalui GenerAksi, kerja sama Indonesia–Australia berkembang menjadi jembatan pembelajaran lintas negara yang mendorong aksi iklim lebih inklusif dan berdampak panjang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!