Tes Genetik WTA Dimulai, Pegula Ungkap Proses Berlangsung di Cincinnati
📅 Jumat, 14 Agu 2026, 00:05 WIB | Oleh: Benny Mudesta PutraCINCINNATI — Asosiasi Tenis Putri (WTA) mulai menerapkan tes genetik terhadap para petenis sebagai bagian dari kebijakan baru terkait kelayakan atlet. Kabar tersebut dikonfirmasi petenis Amerika Serikat, Jessica Pegula, menjelang Cincinnati Open 2026.
Pegula, petenis nomor tiga dunia, mengonfirmasi kepada Front Office Sports pada hari Kamis (13/8) bahwa proses pengujian telah dimulai di Cincinnati Open, yang dijadwalkan bergulir mulai Jumat.
Sebelumnya, Pegula memang memperkirakan tes tersebut mulai diterapkan pada pekan ini. Namun, pada hari Kamis ia memastikan bahwa prosesnya benar-benar sudah berjalan.
Kebijakan baru WTA tersebut diumumkan pada Juli. Dalam aturan terbaru, seluruh atlet diwajibkan menjalani tes genetik satu kali untuk menentukan kelayakan mereka mengikuti kompetisi tenis putri.
Tes tersebut akan memeriksa keberadaan gen SRY, yang berperan dalam menentukan karakteristik biologis jenis kelamin. Pemeriksaan dapat dilakukan melalui sampel usapan bagian dalam pipi (cheek swab) maupun tes darah.
“WTA menyadari bahwa ini merupakan isu yang sensitif dan kompleks. Kami berkomitmen memperlakukan seluruh pemain dengan bermartabat serta menerapkan kebijakan ini dengan cara yang penuh penghormatan dan kehati-hatian,” kata juru bicara WTA.
Kebijakan baru tersebut menggantikan aturan sebelumnya yang memberikan kesempatan kepada atlet transgender perempuan untuk berkompetisi selama kadar testosteron mereka telah ditekan di bawah ambang batas tertentu selama sedikitnya dua tahun sebelum mengikuti pertandingan.
WTA menyatakan tidak ada atlet transgender perempuan yang diketahui saat ini aktif berkompetisi di tenis profesional putri.
Penerapan tes genetik ini menjadi bagian dari perdebatan lebih luas mengenai keseimbangan antara inklusivitas dan keadilan dalam olahraga putri.
Sejumlah organisasi olahraga internasional juga mulai menerapkan kebijakan serupa. Komite Olimpiade Internasional (IOC) mengadopsi kebijakan tes satu kali pada musim semi tahun ini. Federasi Atletik Dunia (World Athletics) dan World Boxing juga termasuk organisasi yang telah mengambil langkah serupa.
Petenis Amerika Serikat Coco Gauff sebelumnya menyatakan mendukung upaya menciptakan kompetisi yang adil. Namun, juara Grand Slam tersebut mengaku khawatir kebijakan itu justru dimanfaatkan untuk menyerang komunitas transgender.
“Saya tidak menyukai serangan yang muncul akibat hal ini,” ujar Gauff awal bulan ini.
“Orang-orang yang sebenarnya tidak peduli, tetapi hanya ingin menggunakan isu ini sebagai alasan untuk menyerang komunitas transgender, membuat saya tidak terlalu menyukainya.”
Gauff menegaskan bahwa dukungannya terhadap komunitas transgender tetap berjalan beriringan dengan pandangannya mengenai pentingnya menjaga keadilan dalam kompetisi olahraga.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!