Kebun Teh Sirah Kencong, Tempat Merenung di Lereng Gunung Kawi
📅 Jumat, 07 Agu 2026, 07:43 WIB | Oleh: Haryo BronoPerjalanan dengan kereta menawarkan pengalaman tersendiri. Lanskap perkotaan perlahan berganti menjadi persawahan, pepohonan, perbukitan, dan kawasan perdesaan. Setelah tiba di Wlingi, perjalanan berlanjut menuju dataran yang semakin tinggi.
Jalan menuju Sirah Kencong membawa wisatawan melewati lanskap pedesaan yang masih hijau. Pada sejumlah bagian perjalanan, hamparan sawah, perkebunan, hutan, serta kawasan peternakan menjadi pemandangan yang menemani perjalanan.
Semakin mendekati kawasan perkebunan, kontur jalan semakin menanjak dan udara mulai terasa lebih dingin. Pepohonan yang rimbun memberikan keteduhan. Ketika kawasan permukiman mulai jarang, suasana perjalanan berubah. Hiruk-pikuk kendaraan dan aktivitas kota perlahan menghilang, digantikan suara angin dan kehidupan alam.
Perjalanan itu seolah menjadi transisi: dari ruang urban menuju ruang pegunungan. Dan ketika hamparan tanaman teh mulai terlihat, perjalanan panjang tersebut menemukan jawabannya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hamparan Teh di Atas Perbukitan
Begitu memasuki kawasan perkebunan, warna hijau menjadi pemandangan dominan. Tanaman teh tumbuh rapat mengikuti lekuk perbukitan. Dari beberapa titik yang lebih tinggi, hamparan tersebut terlihat seperti karpet hijau yang dibentangkan di antara pegunungan.
Pemandangan inilah yang menjadi daya tarik utama Sirah Kencong. Bagi pengunjung yang terbiasa dengan suasana urban, berada di tengah perkebunan teh memberikan pengalaman yang berbeda. Tidak ada gedung tinggi yang memenuhi pandangan. Tidak ada kemacetan atau deru kendaraan yang terus-menerus terdengar.
Sebaliknya, pengunjung dapat menikmati suara angin, burung, serangga, serta aktivitas para pekerja perkebunan. Udara dingin menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman tersebut. Semakin pagi atau menjelang sore, suhu terasa semakin rendah sehingga pakaian hangat menjadi perlengkapan yang layak dibawa.
Pada pagi hari, kabut juga dapat muncul di antara perbukitan. Ketika matahari mulai meninggi dan kabut perlahan terangkat, hamparan tanaman teh muncul sedikit demi sedikit. Momen seperti ini membuat Sirah Kencong memiliki daya tarik fotografi yang kuat.
Barisan tanaman teh, jalan setapak, pepohonan, bukit, dan kabut dapat menjadi komposisi alami yang tidak membutuhkan banyak tambahan dekorasi. Bahkan, pada waktu tertentu, kawasan ini juga menjadi lokasi untuk menikmati matahari terbit. DetikTravel pernah mencatat Sirah Kencong sebagai salah satu lokasi berburu sunrise di Blitar, dengan matahari yang tampak muncul di antara perbukitan.
Secangkir Teh dan Sepiring Pecel
Menikmati udara dingin tentu terasa lebih lengkap jika ditemani makanan dan minuman hangat. Di kawasan Sirah Kencong terdapat warung yang menawarkan makanan khas pedesaan, salah satunya nasi pecel. Salah satu warung yang pernah menjadi rujukan kuliner di kawasan tersebut adalah Warung Nasi Bu Tia, yang menyajikan nasi pecel dalam suasana dataran tinggi dengan pemandangan perkebunan teh.
Nasi pecel menjadi menarik bukan hanya karena rasanya, tetapi karena suasana ketika menyantapnya. Sepiring nasi, sayuran, sambal kacang, dan lauk sederhana terasa berbeda ketika disantap di tengah udara dingin pegunungan. Apalagi jika ditemani segelas teh hangat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!