Tebing Gunung Gajah, Menantang dan Keras Kepala tetapi Luar Biasa Indah
📅 Senin, 24 Agu 2026, 06:18 WIB | Oleh: OpikBANDUNG - Siang itu, dua orang anggota tim pemanjat Unpad bergerak membuka jalur. Tebing yang akan mereka panjat tampak perkasa dari kejauhan, seolah berkata, “Akulah si Gunung Gajah, bisakah kalian merayapinya?”
Di tengah desau angin, tiba-tiba terdengar suara lantang dari ketinggian 20 meter. “Urang (saya) mau jatuh.”
Itu suara Neil, anggota tim pengembaraan Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam (PMPA) PALAWA Unpad, 2–18 Agustus 2026.
Rekannya, Neiza, yang menjadi belayer sigap menarik tali kernmantel itu. Neil tetap terjatuh dan darah terlihat membasahi keningnya.
Tak pelak, kepanikan terjadi. Neiza menginformasikan kepada tim di bawah untuk siap-siap mengevakuasi Neil ke puskesmas terdekat. Beruntung, dia hanya mengalami cedera ringan sehingga pemanjatan tebing Gunung Gajah bisa dilanjutkan.
Tebing setinggi 500 meter tersebut berada di Desa Gongseng, Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.
Tantangan pertama yang dihadapi adalah menemukan jalan menuju tebing. Informasi yang diterima tim mengenai titik koordinat dan akses berbeda-beda. Beberapa bagian jalur telah tertutup vegetasi sehingga tim harus membuka akses dan membaca kondisi medan secara langsung. Pencarian jalur menuju kaki tebing memakan waktu kurang lebih dua jam.
Setelah sampai, base camp didirikan. Karabiner berdenting saat alat panjat mulai dikenakan. Neiza dan Neil melangkah maju, siap menantang sang raksasa andesit. Jalur pertama yang dicoba adalah jalur merah, yang sebelumnya dibuat oleh Himpala Big Wall Expedition.
Pemanjatan dimulai
Perlahan, ketinggian bertambah. Satu per satu runner berhasil disematkan. Pada pemanjatan awal, progres berada di kisaran 10–15 meter.
Namun, terik matahari Pemalang kian memanggang ubun-ubun. Bayangan tebing yang menyusut memaksa pemanjat turun sejenak, mengumpulkan tenaga sebelum mencoba lagi pada sore hari.
Sekitar pukul 14.00 WIB, Neil dan Neiza kembali memanjat. Di atas tebing, Neil meraba permukaan andesit yang masif dan pelit celah, mencari titik aman untuk bertumpu di sekitar runner kedelapan. Keringat yang merembes ke mata membuat pedih dan mengaburkan pandangannya. Ototnya gemetar menahan bobot tubuhnya. Akhirnya, pertahanan itu runtuh.
Daffa mengikatkan tali ke harness dan maju menggantikan Neil.
Daffa dan Neiza kini melanjutkan “pertarungan” — satu merayap menantang gravitasi, satu lagi berjaga menahan nyawa di ujung tali. Viony sempat mengambil bagian, meski tidak seberat Neiza dan Daffa. Pemanjatan itu seakan menjadi palagan bagi mereka.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!