WiLAT Indonesia dan Policy+ Kolaborasi Percepat Adopsi Kendaraan Listrik Komersial di Indonesia.
📅 Kamis, 30 Jul 2026, 07:35 WIB | Oleh: Yebdi Trismar
Doc: Koran Jakarta/M.Fachri
Sektor logistik Indonesia kini berada di persimpangan jalan menuju era baru yang lebih bersih. Demi mempercepat lahirnya ekosistem logistik hijau, Women in Logistics and Transport (WiLAT) Indonesia berkolaborasi dengan Policy+ menggelar Roundtable Discussion bertajuk “Mengakselerasi Adopsi Kendaraan Logistik Listrik: Pembelajaran dari Praktik Baik Pelaku Industri di Indonesia” di Jakarta, Rabu (29/7).
Forum strategis ini mengumpulkan para pemimpin industri dan asosiasi untuk merumuskan langkah konkret dekarbonisasi logistik nasional, membedah temuan awal Green Logistics Report 2026, serta menyerap masukan kritis demi memperkuat arah kebijakan industri ke depan.
Peluang Besar di Tengah Tantangan Emisi.Data menunjukkan bahwa sektor logistik menyumbang 25,11 persen dari total emisi transportasi nasional (setara >45 MtonCO2eq). Namun, adopsi kendaraan listrik komersial ringan di Indonesia sepanjang 2023–2025 baru menyentuh angka 0,13 persen—tertinggal cukup jauh dari tren kendaraan penumpang.
Padahal, secara keekonomian, kendaraan logistik listrik kini makin efisien. Studi International Council on Clean Transportation (ICCT) 2025 mengungkapkan bahwa segmen Electric Light Commercial Vehicle (E-LCV) telah mencapai titik keekonomian Total Cost of Ownership (TCO) yang hampir setara dengan armada diesel. Secara global pun, tren adopsi kendaraan logistik bebas emisi melonjak drastis dari bawah 1% pada 2021 menjadi 4% di tahun 2025.
Fokus pada Manusia dan Kesiapan Ekosistem "Transisi ke kendaraan listrik bukan lagi soal mau atau tidak. Ini soal kesiapan ekosistem: dari produk, kebijakan, sampai manusianya. Forum ini penting untuk menyatukan pembelajaran agar transisi bisa lebih cepat dan adil," tegas Nurmaria Sarosa, CMILT, Ketua Umum WiLAT Indonesia.
Sebagai organisasi profesi perempuan di sektor logistik dan transportasi, WiLAT Indonesia secara khusus menyoroti urgensi pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)—mulai dari operator, teknisi, hingga pengambil keputusan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Nurmaria menambahkan bahwa elektrifikasi tidak akan berjalan optimal jika hanya berfokus pada teknologi. Investasi pada kapasitas SDM sangat krusial agar transisi ini bersifat inklusif. WiLAT Indonesia menyatakan kesiapannya untuk terus menjadi mitra strategis bagi pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan.
Mengubah Potensi Menjadi Aksi Nyata Senada dengan hal tersebut, Raafi Seiff, CEO Policy+, menyampaikan bahwa payung regulasi yang hadir sejak 2019 telah memberikan sinyal positif bagi pasar. Kendati demikian, percepatan di lapangan masih membutuhkan penguatan ekosistem secara menyeluruh, mulai dari infrastruktur pengisian daya, skema pembiayaan, hingga kolaborasi lintas sektor.
"Momentum transisi menuju kendaraan logistik listrik sudah semakin jelas. Tantangannya bukan lagi pada potensi teknologinya, tetapi pada bagaimana kita mempercepat implementasi melalui kolaborasi yang kuat, sehingga manfaat ekonomi dan lingkungan dapat dirasakan secara lebih luas," ujar Raafi.
Ruang Kolaborasi Lintas Sektor Secara khusus, Roundtable Discussion ini digelar untuk:
- Mengidentifikasi best practices elektrifikasi armada dari para pionir industri.
- Menjaring masukan kritis guna memperkaya riset Green Logistics Report 2026.
- Membuka ruang knowledge exchange terkait peluang dan tantangan nyata dekarbonisasi logistik di Tanah Air.
Diskusi panel ini turut menghadirkan deretan narasumber ahli di bidangnya, antara lain Budiyanto Darmastono (Ketua Umum ASPERINDO), Hany Sartana (Senior Vice President Courier and Logistic Operation), serta Bowo Kusumo (CEO Spora EV).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!