Fleksibel dan Didukung AI, Generasi Z Mulai Mengadopsi Model Karier Portofolio
📅 Senin, 27 Jul 2026, 19:45 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA — Generasi Z mulai mengubah cara memandang perjalanan karier. Alih-alih mengikuti jalur pekerjaan yang linier dengan satu perusahaan dan satu sumber penghasilan, semakin banyak profesional muda yang memilih model karier fleksibel dengan menggabungkan pekerjaan utama, pekerjaan sampingan, proyek, hingga kegiatan kewirausahaan.
Perubahan tersebut turut dipengaruhi oleh perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin cepat mengubah berbagai jenis pekerjaan. Di tengah transformasi teknologi dan ketidakpastian ekonomi, generasi muda dinilai semakin terdorong untuk mengembangkan keterampilan baru sekaligus membangun lebih dari satu sumber penghasilan sebagai strategi menghadapi perubahan dunia kerja.
Temuan tersebut terungkap dalam penelitian terbaru International Workplace Group (IWG), platform penyedia ruang kerja fleksibel. Penelitian terhadap profesional Generasi Z di Inggris menunjukkan bahwa 33 persen responden telah memiliki atau sedang mempertimbangkan pekerjaan sampingan.
Dari kelompok tersebut, hampir separuh atau 48 persen menyebutkan tambahan penghasilan sebagai salah satu alasan utama. Dorongan tersebut berkaitan dengan kebutuhan untuk memperkuat ketahanan finansial di tengah meningkatnya biaya hidup, inflasi, serta kewajiban finansial seperti utang pendidikan.
Sementara itu, sebanyak 55 persen responden meyakini AI akan mengubah arah karier mereka. Kondisi tersebut mendorong profesional muda untuk lebih proaktif mengembangkan keterampilan dan mencari peluang baru yang dapat memperkuat posisi mereka di pasar tenaga kerja.
Sebaiknya Anda baca juga:
Munculnya Karier Portofolio
Perubahan pola karier tersebut melahirkan konsep yang dikenal sebagai "karier portofolio". Dalam model ini, seseorang tidak lagi hanya mengandalkan satu pekerjaan atau satu perusahaan sebagai sumber penghasilan, melainkan menggabungkan berbagai aktivitas profesional.
Karier portofolio dapat mencakup pekerjaan utama, pekerjaan lepas, bisnis sampingan, proyek berbasis keahlian, hingga kegiatan kewirausahaan. Model tersebut memberikan fleksibilitas bagi pekerja untuk menyesuaikan karier dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan ekonomi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penelitian IWG menunjukkan bahwa keberhasilan dalam dunia kerja yang terus berubah tidak hanya bergantung pada kemampuan teknis. Kemampuan beradaptasi, pola pikir kewirausahaan, serta kemampuan bekerja berdampingan dengan teknologi juga semakin penting.
Perkembangan AI menjadi salah satu faktor yang mempercepat perubahan tersebut. Ketika teknologi mulai mengambil alih berbagai tugas teknis dan berulang, keterampilan manusia seperti kreativitas, kolaborasi, kemampuan beradaptasi, dan kepemimpinan dinilai semakin bernilai.
Sebanyak 90 persen pemimpin sumber daya manusia (SDM) yang disurvei mengatakan bahwa kegagalan memprioritaskan keterampilan manusia dapat menghambat inovasi. Sementara itu, 65 persen menilai AI tidak mampu meniru empati manusia dan 53 persen meyakini kepemimpinan tetap menjadi kemampuan unik manusia.
Potensi Penghasilan Dorong Mobilitas Karier
Faktor finansial juga menjadi pertimbangan penting bagi Generasi Z dalam menentukan arah karier. Di antara responden yang berganti pekerjaan dalam tiga tahun terakhir, 30 persen menyebutkan gaji yang lebih tinggi sebagai motivasi utama.
Dalam periode yang sama, sebanyak 43 persen responden telah berganti peran sebanyak dua hingga tiga kali.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!