Perguruan Tinggi Dinilai Berperan Penting Strategis dalam Ketahanan Pangan
📅 Kamis, 23 Jul 2026, 06:13 WIB | Oleh: SriyonoPALU - Akademisi Universitas Tadulako (Untad) Palu Muhammad Anshar Pasigai menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dan penting dalam menyukseskan ketahanan pangan nasional melalui riset, inovasi teknologi, serta pendampingan kepada petani guna menjaga keberlanjutan peningkatan produksi pangan.
Guru Besar Fakultas Pertanian Untad itu di Palu, Rabu (22/7), mengatakan keterlibatan perguruan tinggi dalam pembangunan pertanian telah terbukti sejak era 1980-an saat Indonesia berhasil mencapai swasembada beras melalui kolaborasi pemerintah, peneliti, penyuluh, dan petani.
"Peran perguruan tinggi sudah ada sejak tahun 1980-an dalam menyukseskan swasembada beras di masa pemerintahan Presiden Soeharto," katanya.
Menurut Anshar, keberhasilan tersebut didukung oleh pelaksanaan program Bimbingan Massal (Bimas) dan Intensifikasi Massal (Inmas) yang memberikan penyuluhan, akses pembiayaan, serta pemanfaatan teknologi pertanian kepada petani.
Di sisi lain, pengembangan varietas padi unggul berumur pendek dan tahan hama, disertai pemanfaatan teknologi budidaya, menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian nasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menjelaskan perguruan tinggi berkontribusi melalui penelitian untuk menghasilkan inovasi varietas unggul, teknologi budidaya, hingga rekomendasi kebijakan berbasis ilmiah yang dapat diterapkan di lapangan.
Selain itu, mahasiswa juga dapat dilibatkan dalam kegiatan pendampingan dan penyuluhan kepada petani sehingga mempercepat adopsi inovasi sekaligus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor pertanian.
"Bisa disiapkan anggaran khusus untuk program pendampingan yang melibatkan mahasiswa, dengan dukungan teknologi dari perguruan tinggi," ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Anshar menilai sinergi pemerintah, perguruan tinggi, dan petani perlu terus diperkuat agar capaian ketahanan pangan nasional dapat dipertahankan sekaligus menjadi fondasi peningkatan daya saing sektor pertanian pada masa mendatang.
Ia mengemukakan keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras pada 2025 menunjukkan bahwa kolaborasi lintas pemangku kepentingan mampu menghasilkan peningkatan produksi pangan secara berkelanjutan.
Produksi beras nasional pada 2025 tercatat mencapai sekitar 34,7 juta ton atau meningkat sekitar 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut menghasilkan surplus sekitar 3,5 juta ton sehingga Indonesia tidak melakukan impor beras konsumsi sepanjang tahun itu.
Di sisi lain, cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog juga mencapai sekitar 3,24 juta ton pada akhir 2025 dan sempat menyentuh 4,2 juta ton, menjadi level tertinggi sepanjang sejarah pengelolaan cadangan pangan nasional.
Menurut Anshar, capaian tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk terus memperkuat ketahanan pangan melalui pengembangan inovasi pertanian berbasis riset, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan pelaku usaha tani.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!