Empat Masalah Kesehatan Anak Ini Diam-Diam Ancam Kapasitas Kognitif Generasi Indonesia
📅 Kamis, 23 Jul 2026, 17:58 WIB | Oleh: Haryo BronoIHDC kemudian menawarkan Community Framework yang mengintegrasikan faktor biologis, sensorik, perilaku, dan sosial untuk memahami perkembangan kapasitas kognitif dan imajinatif anak secara lebih menyeluruh.
Risiko bagi Indonesia Emas 2045
IHDC mengaitkan persoalan tersebut dengan tantangan pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Kajian tersebut menyoroti sejumlah indikator pendidikan dan pembangunan manusia yang dinilai menunjukkan adanya tantangan serius. Data yang dikutip IHDC antara lain memperkirakan potensi produktivitas optimal anak Indonesia di masa depan berada pada angka 54 persen berdasarkan Human Capital Index Bank Dunia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, sekitar 53 persen anak Indonesia disebut mengalami learning poverty, yakni belum mampu membaca dan memahami bacaan sederhana. Dalam aspek creative thinking, data PISA 2022 yang dipaparkan IHDC menunjukkan sekitar 31 persen siswa mencapai kompetensi dasar, sementara hanya sekitar 5 persen yang mencapai tingkat tertinggi.
IHDC menilai indikator tersebut menunjukkan bahwa tantangan Indonesia tidak lagi sekadar memastikan akses anak terhadap pendidikan dan layanan kesehatan, tetapi juga memastikan setiap anak memiliki kapasitas neurokognitif yang memadai untuk berkembang.
Nila Moeloek mengatakan agenda Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi yang tidak hanya sehat, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, berkreasi, memecahkan masalah, dan berinovasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Indonesia Emas 2045 tidak hanya membutuhkan generasi yang sehat. Indonesia membutuhkan generasi yang mampu berpikir, berkreasi, memecahkan masalah, dan berinovasi. Investasi terhadap perkembangan otak anak adalah investasi terhadap daya saing bangsa," ujarnya.
Dorong Kebijakan Lintas Sektor
IHDC merekomendasikan agar kesehatan mata, pencegahan defisiensi zat besi, peningkatan kualitas asupan protein, serta kesehatan jiwa dan perilaku anak sekolah menjadi bagian dari agenda pembangunan manusia lintas sektor.
Intervensi tersebut dinilai tidak seharusnya hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi juga perlu diintegrasikan dengan kebijakan pendidikan, perlindungan anak, gizi, dan pembangunan manusia.
IHDC menempatkan gangguan refraksi yang tidak terkoreksi sebagai prioritas intervensi karena memiliki prevalensi tinggi, berdampak langsung terhadap proses pembelajaran, dan relatif mudah dikoreksi melalui skrining serta penggunaan kacamata.
Di sisi lain, pencegahan anemia defisiensi besi, perbaikan kualitas nutrisi, serta deteksi dini gangguan perilaku dan kesehatan mental juga dinilai perlu diperkuat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!