Empat Masalah Kesehatan Anak Ini Diam-Diam Ancam Kapasitas Kognitif Generasi Indonesia
📅 Kamis, 23 Jul 2026, 17:58 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA – Indonesia berpotensi menghadapi ancaman silent cognitive burden atau beban kognitif senyap pada anak. Kondisi ini merujuk pada penurunan kapasitas perkembangan kognitif yang berlangsung perlahan akibat sejumlah masalah kesehatan dan sosial yang kerap luput dari perhatian, tetapi berpotensi memengaruhi kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang.
Peringatan tersebut disampaikan Indonesia Health Development Center (IHDC) melalui Seri Kajian Strategis IHDC Nomor 4 bertajuk Silent Cognitive Burden: Mengidentifikasi dan Memetakan Determinan Kapasitas Kognitif dan Imajinatif Anak Usia Sekolah di Indonesia, yang dipaparkan pada Kamis 23 Juli 2026.
Kajian yang dipimpin Direktur Eksekutif IHDC Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, itu dilakukan melalui rapid review terhadap berbagai penelitian internasional, community diagnosis, analisis prioritas, serta validasi melalui pertemuan pakar multidisiplin.
Dalam kajian tersebut, IHDC mengidentifikasi empat determinan kesehatan yang dinilai memiliki hubungan kuat dengan perkembangan kapasitas kognitif anak usia sekolah. Keempatnya adalah gangguan refraksi yang tidak terkoreksi, defisiensi zat besi, kekurangan asupan protein, serta gangguan perilaku dan kesehatan mental.
IHDC menilai keempat masalah tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik dan psikologis anak, tetapi juga berpotensi memengaruhi kemampuan belajar, perhatian, memori kerja, fungsi eksekutif, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, hingga kemampuan anak membayangkan dan merancang masa depannya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketua Dewan Pembina IHDC sekaligus Menteri Kesehatan periode 2014-2019, Prof. Nila F. Moeloek, mengatakan persoalan yang selama ini sering dianggap sebagai masalah kesehatan individual dapat berubah menjadi persoalan pembangunan manusia ketika dialami oleh jutaan anak.
"Selama ini kita menganggap gangguan penglihatan, anemia, atau masalah perilaku sebagai persoalan kesehatan individual. Padahal bila terjadi pada jutaan anak Indonesia, dampaknya dapat memengaruhi kualitas modal manusia nasional. Yang hilang bukan hanya nilai rapor, tetapi juga potensi berpikir, berinovasi, dan membangun masa depan," ujar Nila melalui rekaman video pada kesempatan tersebut.
Gangguan Penglihatan Jadi Prioritas Utama
Sebaiknya Anda baca juga:
Berdasarkan analisis IHDC dengan pendekatan Magnitude, Impact, Vulnerability, and Cost (MIV/C), gangguan refraksi yang tidak terkoreksi ditempatkan sebagai determinan dengan peluang intervensi terbesar.
Kajian tersebut menyebut prevalensi gangguan refraksi pada anak sekolah Indonesia mencapai sekitar 40 persen. Berdasarkan estimasi studi IHDC, kondisi tersebut berpotensi dialami lebih dari 8 juta anak sekolah dasar usia 5-9 tahun.
Gangguan refraksi menjadi perhatian karena sebagian besar proses pembelajaran anak berlangsung melalui informasi visual. Anak yang mengalami gangguan penglihatan tetapi tidak mendapatkan koreksi dapat mengalami hambatan dalam menerima stimulasi visual dan mengikuti proses belajar.
IHDC mengutip sejumlah penelitian yang menunjukkan adanya hubungan antara gangguan penglihatan dengan keterlambatan literasi maupun penurunan capaian akademik. Salah satu penelitian di Indonesia yang dirujuk dalam kajian tersebut menemukan adanya penurunan nilai akademik pada anak dengan gangguan refraksi yang tidak terkoreksi.
Menurut IHDC, persoalan tersebut sebenarnya memiliki peluang intervensi yang relatif besar karena dapat ditangani melalui skrining penglihatan dan penggunaan kacamata yang sesuai.
Defisiensi Zat Besi Mengancam Fungsi Kognitif
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!