Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Empat Masalah Kesehatan Anak Ini Diam-Diam Ancam Kapasitas Kognitif Generasi Indonesia

📅 Kamis, 23 Jul 2026, 17:58 WIB | Oleh:

Di Indonesia, data yang dipaparkan IHDC dari Program Cek Kesehatan Gratis Kementerian Kesehatan 2025 menunjukkan adanya temuan gejala kecemasan dan depresi pada anak yang menjalani skrining.

Selain itu, studi yang dilakukan di Jakarta juga menunjukkan adanya risiko gangguan emosional dan kesehatan mental pada pelajar SMA.

Menurut IHDC, gangguan perhatian, hiperaktivitas, serta kesulitan dalam mengatur emosi dapat berhubungan dengan fungsi eksekutif dan capaian akademik. Masalah tersebut karena itu tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai persoalan individual, melainkan perlu ditempatkan sebagai bagian dari isu kesehatan masyarakat dan pembangunan manusia.

Memperkenalkan Konsep Kapasitas Kognitif dan Imajinasi Masa Depan

Dalam kajian ini, IHDC juga memperkenalkan konsep Future Cognitive and Imaginative Capacity (FCIC), yakni kapasitas neurokognitif yang memungkinkan anak memahami informasi, mengintegrasikan pengalaman, berpikir kritis, memecahkan masalah, berkreasi, menyusun tujuan hidup, serta membayangkan berbagai kemungkinan masa depan.

Konsep tersebut mendorong perubahan paradigma dalam melihat keberhasilan pembangunan anak. Menurut IHDC, ukuran keberhasilan tidak cukup hanya berdasarkan status kesehatan, pertumbuhan fisik, nilai sekolah, atau kemampuan literasi.

Kapasitas anak untuk berpikir, berimajinasi, mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan membangun orientasi masa depan juga perlu diperhatikan.

Dr. Ray Wagiu Basrowi mengatakan pembangunan kesehatan anak perlu bergeser dari paradigma yang hanya berfokus pada pencegahan penyakit menuju upaya membangun kapasitas otak sebagai fondasi pembangunan manusia.

"Perkembangan kapasitas kognitif merupakan hasil interaksi antara faktor biologis, kualitas sensorik, fungsi neurokognitif, perilaku, dan lingkungan sosial, dan sebaiknya mulai diukur sejak usia anak, agar anak bisa belajar memetakan imajinasi dan trajektori masa depannya," kata Ray.

Lingkungan Sosial Ikut Menentukan

IHDC menekankan bahwa kapasitas kognitif dan imajinatif anak tidak hanya ditentukan oleh faktor biologis.

Lingkungan sosial juga berperan dalam membentuk kemampuan anak untuk belajar dan membayangkan masa depan. Faktor seperti harapan orang tua terhadap pendidikan, ketersediaan buku di rumah, keamanan lingkungan sekolah, kualitas pengasuhan, pengalaman kekerasan atau perundungan, serta lingkungan yang mampu menumbuhkan harapan dapat menjadi faktor yang memperkuat atau justru menghambat perkembangan anak.

Dengan demikian, dua anak yang memiliki status gizi dan kondisi kesehatan yang relatif sama belum tentu memiliki kemampuan yang sama dalam membangun visi tentang masa depannya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
Advertisement
Timnas Indonesia Libas Singapura 2-0, Ragnar dan Ole Romeny Ngamuk di Gelora Bung Karno

Timnas Indonesia Libas Singapura 2-0, Ragnar dan Ole Romeny Ngamuk di Gelora Bung Karno

25 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.