Empat Masalah Kesehatan Anak Ini Diam-Diam Ancam Kapasitas Kognitif Generasi Indonesia
📅 Kamis, 23 Jul 2026, 17:58 WIB | Oleh: Haryo BronoDeterminan kedua adalah defisiensi zat besi. IHDC memperkirakan sekitar 7,5 juta balita di Indonesia mengalami anemia defisiensi besi.
Zat besi berperan dalam berbagai proses penting bagi perkembangan otak, termasuk mielinisasi, metabolisme energi neuron, serta sintesis neurotransmiter yang berkaitan dengan perhatian dan memori kerja.
Kajian IHDC juga merujuk pada temuan penelitian yang menunjukkan anak dengan defisiensi zat besi memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pada fungsi working memory. Sementara itu, penelitian lintas negara yang dikutip dalam kajian menunjukkan suplementasi zat besi dapat memberikan manfaat terhadap kemampuan atensi pada kelompok anak tertentu.
IHDC menilai pencegahan anemia dan defisiensi zat besi perlu menjadi bagian dari strategi pembangunan kapasitas kognitif anak, terutama melalui penguatan intervensi gizi dan pencegahan sejak usia dini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Asupan Protein dan Perkembangan Otak
Masalah ketiga adalah kekurangan asupan protein. Berdasarkan data yang disampaikan dalam kajian IHDC, sekitar 58 persen anak usia sekolah dan remaja di Indonesia belum memenuhi rekomendasi minimum asupan protein harian.
Protein merupakan salah satu komponen penting dalam pertumbuhan dan perkembangan otak. Nutrisi tersebut dibutuhkan dalam berbagai proses biologis, termasuk pembentukan neuron, sinaptogenesis, mielinisasi, dan neuroplastisitas.
Sebaiknya Anda baca juga:
IHDC juga mencatat bahwa hanya sebagian balita Indonesia yang mendapatkan asupan protein sesuai Angka Kecukupan Gizi. Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian karena kualitas nutrisi pada masa pertumbuhan berhubungan dengan perkembangan biologis dan neurokognitif anak.
Indonesia sebenarnya memiliki beragam sumber pangan protein, baik hewani maupun nabati. Namun, kesenjangan akses, pengetahuan gizi, kondisi ekonomi keluarga, serta pola konsumsi dapat memengaruhi kecukupan asupan protein anak.
Karena itu, IHDC merekomendasikan peningkatan kualitas nutrisi anak sekolah sebagai bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia.
Gangguan Perilaku dan Kesehatan Mental
Faktor keempat yang menjadi perhatian adalah gangguan perilaku dan kesehatan mental anak.
Kajian IHDC mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebut sekitar satu dari tujuh anak usia sekolah dan remaja mengalami gangguan kesehatan mental.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!