Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Dulu Zona Perang, Kini Barista Perempuan Jadi Wajah Baru Kebangkitan Kedai Kopi di Somalia

📅 Kamis, 23 Jul 2026, 00:04 WIB | Oleh:
Dulu Zona Perang, Kini Barista Perempuan Jadi Wajah Baru Kebangkitan Kedai Kopi di Somalia Doc: Istimewa
Ket. Pesatnya perkembangan industri kopi juga mendorong munculnya berbagai lembaga pelatihan barista di Mogadishu. Di luar pekerjaannya sebagai barista, Hassan kini juga mengajar di salah satu pusat pelatihan tersebut.

MOGADISHU – Di tengah aroma kopi yang mengepul dari deretan kafe baru di Mogadishu, Somalia, lahir kisah perubahan yang tak hanya mengubah kebiasaan masyarakat, tetapi juga membuka jalan bagi perempuan untuk menembus batas-batas sosial yang selama ini mengungkung mereka.

Dari The Guardian, setiap pagi pukul enam, Saabiriin Hassan berdiri di balik konter Cplus Cafe. Senyumnya menyambut pelanggan bahkan sebelum secangkir kopi pertama tersaji. Di usia 23 tahun, Hassan menjadi salah satu barista perempuan pertama di Somalia, sebuah profesi yang dahulu dianggap hanya layak dijalani laki-laki.

"Semuanya berawal dari rasa penasaran pada 2020. Saya menyadari tidak ada barista perempuan di kota ini. Saya kemudian mengikuti kursus selama tiga bulan, dan sejak saat itu saya jatuh cinta pada seni membuat kopi," ujar Hassan.

Perjalanan itu tidak mudah. Saat pertama kali memilih profesi sebagai barista, ia menghadapi cibiran dari lingkungan sekitarnya.

"Orang-orang mengatakan ini pekerjaan laki-laki. Bahkan ada yang berkata tidak ada pria yang mau menikahi perempuan yang melayani laki-laki di depan umum. Tapi saya tidak pernah mendengarkan mereka," katanya.

Hassan mengaku memilih tetap fokus pada mimpinya.

"Saya tahu nilai diri saya dan apa yang saya inginkan dalam hidup. Karena itu saya hanya fokus pada tujuan saya."

Enam tahun kemudian, pandangan masyarakat mulai berubah. Semakin banyak perempuan muda mengikuti jejaknya menjadi barista, seiring membaiknya kondisi keamanan di Mogadishu dan tumbuhnya industri kafe modern di ibu kota Somalia.

Selama bertahun-tahun, Mogadishu identik dengan perang dan konflik. Kini, wajah kota perlahan berubah. Pusat perbelanjaan, kawasan bisnis, hingga kedai kopi bermunculan, menggantikan suasana yang dulu dipenuhi ketakutan.

Ledakan bisnis kafe ini juga membawa dampak ekonomi yang signifikan. Selain menciptakan lapangan pekerjaan bagi generasi muda—yang jumlahnya mencapai lebih dari 70 persen populasi Somalia—kafe-kafe tersebut menjadi ruang berkumpul bagi seniman, desainer, hingga para pengusaha muda untuk bertukar ide.

Meski masyarakat Somalia sejak lama dikenal sebagai penikmat teh susu unta, budaya minum kopi kini semakin berkembang. Bahkan muncul tren unik bernama "soo dakhar", yaitu menambahkan satu shot espresso ke dalam teh susu tradisional.

Perubahan serupa juga dirasakan Yusra Abdifatahi, 21 tahun. Ia mulai bekerja sebagai barista di Beydan Cafe pada 2023 dan kini dipercaya menjadi manajer salah satu cabangnya.

"Sekarang saya memiliki tanggung jawab yang lebih besar, mulai dari operasional harian, menjaga kualitas produk hingga memastikan kepuasan pelanggan. Saya juga tetap membantu membuat kopi bersama para barista," ujarnya.

Bagi Abdifatahi, pekerjaan tersebut bukan sekadar mencari nafkah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Mobil Tabrak Kerumunan Oran...
Wisata
Prosesi adat kansoda'a di W...
Rona
7 Drama Korea Baru Wajib Di...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.