Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

FIFA Selidiki Kericuhan Final Piala Dunia 2026

📅 Rabu, 22 Jul 2026, 00:20 WIB | Oleh:
FIFA Selidiki Kericuhan Final Piala Dunia 2026 Doc: Istimewa
Ket. Ilustrasi kericuhan usai final Piala Dunia 2026.

NEW YORK - FIFA bergerak cepat menyusul kericuhan yang mewarnai laga final Piala Dunia. Badan sepak bola dunia itu menunjuk seorang jaksa disiplin dan etik untuk menyelidiki insiden bentrokan antarpemain yang pecah setelah Spanyol menundukkan Argentina 1-0 melalui babak perpanjangan waktu dan merebut gelar juara dunia kedua kalinya.

Ketegangan memuncak seusai peluit panjang dibunyikan. Kemenangan Spanyol dipastikan lewat gol penyerang sayap Ferran Torres pada babak perpanjangan waktu, setelah pertandingan berlangsung sengit sejak menit pertama. Argentina sebelumnya harus bermain dengan 10 orang sejak menit ke-93 waktu normal menyusul kartu kuning kedua yang diterima Enzo Fernandez.

Sesaat setelah laga berakhir, gelandang Argentina Leandro Paredes terlibat adu mulut dan saling dorong dengan sejumlah pemain Spanyol, di antaranya Eric Garcia dan Gavi. Perselisihan itu dengan cepat berkembang menjadi keributan massal yang melibatkan pemain dari kedua tim.

Para pemain saling mendorong hingga akhirnya harus dipisahkan oleh ofisial pertandingan dan staf masing-masing tim. Pelatih Argentina Lionel Scaloni tampak berusaha menenangkan anak asuhnya di tengah suasana yang memanas. FIFA belum memberikan kepastian mengenai kapan hasil investigasi tersebut akan diumumkan.

Di balik kemeriahan final, turnamen juga dibayangi ketegangan di level organisasi. Presiden UEFA Aleksander Ceferin memilih tidak menghadiri partai puncak setelah serangkaian perbedaan pandangan dengan FIFA terkait prosedur disiplin, pengaturan perangkat pertandingan, hingga operasional penyelenggaraan turnamen.

Menurut sumber yang mengetahui persoalan tersebut, salah satu pemicu utama adalah keputusan FIFA menangguhkan penerapan hukuman larangan bermain otomatis satu pertandingan terhadap penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, setelah menerima kartu merah. Kebijakan itu memicu kritik keras dari UEFA yang menilai FIFA telah "melampaui batas".

Hubungan kedua organisasi juga memanas akibat kasus wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, yang gagal bertugas di Piala Dunia setelah tidak memperoleh izin masuk ke Amerika Serikat. Artan kemudian ditunjuk memimpin pertandingan Piala Super UEFA antara Paris Saint-Germain dan Aston Villa pada bulan Agustus mendatang.

Selain itu, delegasi Eropa turut mempertanyakan pengelolaan pertandingan yang melibatkan Iran serta sejumlah perubahan regulasi operasional selama turnamen, termasuk penerapan jeda minum wajib dan perpanjangan waktu turun minum pada laga final.

Tak lama setelah Piala Dunia berakhir, wacana besar kembali mencuat mengenai masa depan kompetisi. Presiden Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (CONMEBOL), Alejandro Dominguez, mengusulkan agar Piala Dunia 2030 diperluas menjadi 64 peserta, hanya sehari setelah berakhirnya edisi pertama yang diikuti 48 negara di Amerika Utara.

Melalui media sosial, Dominguez menyebut edisi seabad Piala Dunia layak dirayakan dengan format yang lebih besar. Menurutnya, penyelenggaraan di kawasan Amerika Selatan akan menjadi momentum istimewa untuk memperluas partisipasi negara peserta.

"Yang berikutnya digelar di rumah kami. Pada 2030, Piala Dunia akan hadir di Uruguay, Argentina, dan Paraguay. Ini menjadi kesempatan besar bagi sepak bola untuk merayakan 100 tahun Piala Dunia dengan turnamen yang diikuti 64 tim," tulis Dominguez.

Hingga kini FIFA belum memberikan tanggapan resmi atas usulan tersebut. Berdasarkan rencana yang telah disahkan, Piala Dunia 2030 akan dipusatkan di Spanyol, Portugal, dan Maroko sebagai tuan rumah utama. Sementara Uruguay, Argentina, dan Paraguay akan menggelar pertandingan pembuka sebagai penghormatan terhadap penyelenggaraan Piala Dunia pertama pada tahun 1930 di Uruguay.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Inggris Luncurkan Storm Fig...
Daerah
Menekan Kasus HIV/AIDS deng...
Menpar: Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Gastronomi Dunia

Menpar: Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Gastronomi Dunia

21 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.