Akhiri Konflik Myanmar, Asean Tinjau Implementasi Konsensus Lima Poin
📅 Rabu, 22 Jul 2026, 05:43 WIB | Oleh: SriyonoTOKYO - Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Asean) menyatakan akan “meninjau secara komprehensif” implementasi Konsensus Lima Poin (5PC) yang bertujuan untuk mengakhiri kekerasan yang terus berlanjut sejak kudeta militer terhadap pemerintah terpilih di Myanmar pada 2021.
Langkah ini dilakukan setelah Asean melarang pemimpin dan menteri Myanmar untuk menghadiri KTT perhimpunan tersebut.
Pasca kudeta, Myanmar diwakili oleh perwakilan non-politik dalam setiap pertemuan Asean.
Dalam draf komunike yang dirilis di sela Pertemuan Menlu Asean (AMM) di Manila, Selasa (21/7), para menlu menyatakan "keprihatinan mendalam" atas konflik yang terus berlangsung dan situasi kemanusiaan di Myanmar, bahkan setelah pemerintahan partai yang didukung militer diluncurkan pada April setelah pemilihan umum yang diadakan oleh junta.
Selama pertemuan tersebut, para menlu Asean fokus mendiskusikan upaya normalisasi hubungan dengan Myanmar, sementara serangkaian pertemuan dengan sejumlah negara mitra termasuk AS, China, dan Rusia dijadwalkan pada akhir pekan ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menlu Filipina Maria Theresa Lazaro mengatakan kepada wartawan bahwa selama AMM, ia telah membicarakan hasil pertemuan informal antara menlu Myanmar dan rekan-rekannya dari beberapa anggota Asean lainnya yang diadakan di Thailand pada 12 Juli, termasuk diskusi tentang bagaimana Asean dapat menilai kemajuan di Myanmar.
Menurut sumber diplomatik Asean, Kamboja tidak mengirim menlunya ke pertemuan informal di negara tetangga Thailand, sementara Malaysia hanya mengirim seorang pejabat senior.
Lazaro menambahkan bahwa ia juga memberi pengarahan kepada para peserta AMM tentang keterlibatannya dengan pemangku kepentingan lain dalam krisis politik Myanmar sejak kudeta, termasuk kelompok bersenjata etnis minoritas, serta penilaiannya tentang situasi terkini di lapangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berbicara pada konferensi pers pada Senin (20/7), juru bicara Filipina Dominic Xavier Imperial mengatakan Asean "berharap Myanmar kembali ke meja perundingan dengan menteri dan juga pemimpinnya yang mewakili negara tersebut."
"Namun, saat ini, tentu saja, Anda semua menyadari bahwa negara-negara anggota Asean masih mencari cara untuk mencapai hal itu," ujarnya.
Ribuan orang di Myanmar tewas akibat tindakan keras yang dilancarkan oleh junta di bawah Jenderal Min Aung Hlaing, yang kemudian menjadi presiden negara itu pada April, serta dalam konflik antara militer dan pasukan pro demokrasi.
Asean pada Oktober 2021 memutuskan untuk tidak mengizinkan Min Aung Hlaing menghadiri KTT tahunan karena kurangnya kemajuan dalam implementasi Konsensus Lima Poin yang disusun oleh para pemimpin Asean setelah kudeta.
Konsensus itu mencakup, antara lain, penghentian segera kekerasan dan pengiriman utusan khusus Asean untuk bertemu dengan semua pihak terkait.
Banyak pemimpin pemerintahan sipil, yang digulingkan oleh kudeta, termasuk Aung San Suu Kyi, ditahan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!