Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

DPR: Sanksi pada RUU Kawasan Industri Harus Diperkuat

📅 Senin, 20 Jul 2026, 18:35 WIB | Oleh:
DPR: Sanksi pada RUU Kawasan Industri Harus Diperkuat Doc: antara foto
Ket. Ketua Komisi VII DPR Saleh Partaonan Daulay di Kabupaten Tangerang, Banten, Senin (20/7).

BANTEN - Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menekankan bahwa pematangan draf Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Kawasan Industri yang kini tengah disusun di legislatif sebagai bentuk memperkuat penegakan sanksi dan partisipasi publik.

"Jadi nanti tentu ada reward and punishment. Itu kan prinsip Undang-undang begitu. Itu adalah dasar kita untuk menentukan keadilan di dalamnya," kata Ketua Komisi VII DPR Saleh Partaonan Daulay di Kabupaten Tangerang, Banten, Senin (20/7).

Ia menjelaskan RUU itu disusun untuk mengatur para pengusaha agar tertib dalam menjalankan usahanya, dengan melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan ketentuan.

Selain itu, regulasi tersebut juga turut mengatur agar masyarakat di sekitar kawasan industri bisa menerima hak-haknya agar tidak mengalami kerugian yang menimbulkan kecemburuan sosial.

"Kita sudah memanggil Badan Keahlian DPR. Badan Keahlian DPR itu dengan tenaga ahli, kita dengan anggota kita juga sudah berdiskusi dan menyusun naskah akademik daripada Undang-Undang itu dan juga naskah akademik itu sudah kita serahterimakan dan sekarang sudah dibahas di Komisi VII," ungkapnya.

Saleh mengatakan saat ini tahapan pematangan draf RUU itu difokuskan pembahasannya mencakup tiga poin krusial, yakni pelibatan masyarakat, keberlanjutan lingkungan, dan peran pengembang utama.

Komisi VII menyoroti problematika pencemaran lingkungan yang masih terus terjadi, seperti kasus pencemaran Kali Cisadane di Banten yang diduga berasal dari limbah kawasan industri.

"Kasus yang tak kunjung tuntas ini menjadi cermin urgensi pengawasan yang lebih ketat dalam regulasi yang sedang disusun," tuturnya.

Selain itu, Komisi VII DPR RI menegaskan bahwa RUU itu dirancang untuk memperkuat fondasi green industry (industri hijau) di Indonesia. Transformasi tersebut dianggap krusial seiring dengan visi pemerintah yang semakin berorientasi pada praktik industri berkelanjutan dan manajemen limbah yang lebih tertata.

"Undang-Undang ini harus bisa menjaga green industry. Orientasi Indonesia ke depan memang harus ke arah sana. Pengelolaan sampah pun harus lebih rapi dan tertib," kata Saleh.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Rupiah Menguat, Harga Emas Turun

32 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Rupiah Menguat, Harga Emas ...

PM Baru Inggris Langsung Bahas Selat Hormuz dengan Trump

35 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Luar Negeri
PM Baru Inggris Langsung Ba...

Jaksel dan Jaktim Bakal Diguyur Hujan

53 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Jaksel dan Jaktim Bakal Dig...
Megapolitan
PAM Jaya Siapkan Bantuan Ai...
Luar Negeri
Kebakaran Hutan di Spanyol,...
Olahraga
Puhiri Merapat ke Persis So...
Daerah
300 Hektare Capaian Luas Iz...

Naik Hampir 200 Persen Investasi Bauksit

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Nasional
Naik Hampir 200 Persen Inve...
Demo Besar-besaran di Kawasan Gambir, Ribuan Personel Disiagakan

Demo Besar-besaran di Kawasan Gambir, Ribuan Personel Disiagakan

21 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.