Menengok Sembilan Manuskrip Kuno Abad 19 yang Dijaga Pegiat Sejarah Trenggalek
📅 Jumat, 17 Jul 2026, 04:15 WIB | Oleh: OpikTRENGGALEK, JAWA TIMUR - Seorang pegiat sejarah dan arkeologi berlatar pendidik di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur menyimpan sedikitnya sembilan manuskrip (kumpulan naskah) kuno hasil tulisan tangan yang diperkirakan dibuat sekitar abad 19.
Harmaji, pemilik kumpulan manuskrip kuno itu di Trenggalek, Kamis (16/7), mengungkapkan bahwa seluruh buku koleksinya merupakan warisan keluarga dan telah terdaftar di Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI sebagai bagian dari upaya pelestarian khazanah literasi dan sejarah lokal
Pengajar ilmu sejarah SMKN 1 Pogalan itu mengatakan manuskrip tersebut merupakan amanat ayahnya yang diserahkan kepadanya pada 2015 untuk dirawat dan dijaga keberlangsungannya.
“Jumlahnya delapan jilid. Sebagian besar sudah berupa fragmen, karena banyak lembaran yang rusak atau hilang dimakan usia,” kata Harmaji di kediamannya di Desa Pogalan, Trenggalek.
Menurut dia, manuskrip tersebut memuat beragam ilmu pengetahuan Islam klasik, mulai dari tata bahasa Arab (nahwu dan sharaf), kisah para sahabat Nabi, tafsir Al Quran hingga sejumlah kitab keagamaan lainnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Seluruh naskah ditulis tangan menggunakan tinta celup tradisional pada media kertas deluang atau kertas berbahan kulit kayu serta sebagian menggunakan kertas kuno asal Eropa.
“Semuanya merupakan manuskrip asli, bukan hasil cetakan. Ada yang ditulis di atas kertas deluang dan ada pula yang memakai kertas kuno dari Eropa,” ujarnya.
Harmaji mengaku dirinya mulai melaporkan kepemilikan manuskrip tersebut kepada Dinas Perpustakaan pada 2019.
Setelah melalui proses identifikasi, naskah itu kemudian didigitalisasi dan didaftarkan hingga memperoleh registrasi resmi dari Perpustakaan Nasional.
Ia menilai langkah tersebut penting agar kandungan ilmu pengetahuan dalam manuskrip tetap terjaga sekaligus dapat diakses masyarakat dan kalangan akademisi tanpa harus menyentuh fisik naskah yang rentan rusak.
“Digitalisasi menjadi cara agar ilmu pengetahuan di dalam manuskrip tetap lestari dan bisa dimanfaatkan generasi berikutnya,” katanya.
Menurut Harmaji, pemilik manuskrip yang mendaftarkan naskahnya ke Perpustakaan Nasional memperoleh sejumlah manfaat, antara lain digitalisasi tanpa biaya, identifikasi oleh ahli filologi, fasilitas penyimpanan berupa kotak khusus, serta sertifikat registrasi resmi.
Ia mengatakan keberadaan sertifikat tersebut juga memudahkan peneliti mengakses informasi mengenai manuskrip melalui Perpustakaan Nasional maupun langsung kepada pemilik.
Selain manfaat administratif, Harmaji mengaku memperoleh kepuasan batin karena ilmu pengetahuan yang tersimpan dalam manuskrip dapat dimanfaatkan masyarakat luas.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!