Peneliti IPB Gabungkan Varietas Cabai Habanero Lokal hingga Tingkat Kepedasan Ekstrem
📅 Kamis, 16 Jul 2026, 08:03 WIB | Oleh: SriyonoBOGOR - Peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) University gabungkan empat varietas cabai habanero lokal pertama di Indonesia, salah satunya memiliki tingkat kepedasan ekstrem mencapai 1,3 juta scoville heat units (SHU).
Ahli pemuliaan tanaman IPB University Prof Muhamad Syukur di Bogor, Jawa Barat, Selasa (15/7), mengatakan empat varietas tersebut yakni Tabia Sala 1 IPB, Margi 2 IPB, Tabia Sala Oranye IPB, dan Tabia Sala Kuning IPB.
Keempatnya menjadi varietas habanero pertama yang resmi terdaftar di Kementerian Pertanian RI dan mendapatkan Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT).
"Pada dasarnya cabai habanero di Indonesia itu belum ada. Baru ada Katokkon Sayang dari Sulawesi Selatan yang terdaftar. Jadi, yang mendapat perlindungan varietas pertama kali untuk jenis habanero adalah rakitan kami dari IPB University," kata Syukur.
Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB University itu menjelaskan salah satu daya tarik utama varietas tersebut adalah tingkat kepedasannya yang dapat mencapai lima kali lipat dibandingkan cabai rawit biasa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Varietas Tabia Sala 1 IPB yang berwarna merah memiliki tingkat kepedasan tertinggi, yakni mencapai 1 juta hingga 1,3 juta SHU.
Sementara Margi 2 IPB yang berwarna peach, Tabia Sala Oranye IPB, dan Tabia Sala Kuning IPB masing-masing memiliki tingkat kepedasan antara 350 ribu hingga 500 ribu SHU.
Selain memiliki tingkat kepedasan tinggi, menurut Syukur, keunggulan utama cabai habanero rakitan IPB University terletak pada kemampuan adaptasinya terhadap iklim tropis.
Sebaiknya Anda baca juga:
Cabai habanero impor umumnya memiliki daya adaptasi rendah terhadap iklim tropis, sedangkan empat varietas tersebut dirancang agar lebih tangguh dan tahan terhadap hama serta penyakit keriting kuning.
Benih keempat varietas itu telah didiseminasikan oleh Benih Dramaga sehingga dapat diakses secara massal oleh petani di Indonesia.
Syukur berharap varietas cabai baru tersebut dapat dikembangkan oleh petani maupun industri karena memiliki potensi pasar domestik hingga ekspor.
"Di dalam negeri kebutuhan akan cabai dengan kepedasan tinggi sangat besar karena dapat mengurangi jumlah cabai yang digunakan. Ada perusahaan pengolahan di Bogor yang berminat mengembangkan cabai bubuk dari varietas habanero IPB University," ujarnya.
Selain itu, ia menyebut cabai habanero tersebut memiliki peluang ekspor ke Korea sebagai bahan pembuatan hot pack yang digunakan untuk menghangatkan tubuh saat musim dingin.
Syukur mengungkapkan proses perakitan empat varietas tersebut dimulai sejak 2020. Selama enam tahun penelitian, tim menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kebutuhan pendanaan berkelanjutan, keterbatasan lahan dan rumah kaca, hingga ketersediaan sumber daya manusia pendukung.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!