Terancam Turun ke Frontier Market, Dana Dunia ke RI Bakal Menyusut Drastis
📅 Kamis, 09 Jul 2026, 01:50 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA - Setelah Morgan Stanley Capital Internasional (MSCI) melakukan evaluasi atas kinerja pasar modal Indonesia, kini giliran S&P Dow Jones Indices Country Classification 2026/2027 Watchlist yang memasukkan Indonesia ke dalam daftar pantau (watchlist). Dengan masuknya Indonesia ke watchlist, maka ada kemungkinan status pasar modal RI turun dari emerging market menjadi frontier market.
Jika hal itu terjadi, maka alokasi dana dunia untuk Indonesia menyusut, sebab alokasi dana global untuk masing-masing negara itu ada indeksnya. Indonesia sebagai emerging market indeksnya masih kecil, sekitar 1,6 persen dari uang yang ditempatkan di dunia, sedangkan Tiongkok dengan status yang sama bisa meraup 22 persen.
Kalau Indonesia diturunkan lagi ke status frontier market, maka indeks Indonesia makin berkurang dan dana masuk bakal dunia yang masuk bakal menurun drastis.
Pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Maruf, menilai peringatan terbaru dari S&P Dow Jones Indices terhadap status pasar modal Indonesia harus menjadi perhatian serius pemerintah dan regulator. Apabila Indonesia benar-benar turun dari emerging market ke frontier market, maka arus modal global yang masuk ke pasar keuangan domestik berpotensi menyusut drastis.
“Status emerging market bukan sekadar label, melainkan penentu alokasi investasi berbagai dana global. Ketika Indonesia turun ke frontier market, banyak dana investasi internasional yang mengikuti indeks acuan otomatis akan mengurangi bahkan menghentikan eksposurnya di Indonesia. Dampaknya, aliran modal asing dapat turun signifikan,” kata Achmad Maruf di Yogyakarta, Rabu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berkurangnya dana asing tidak hanya menekan pasar saham, tetapi juga berpotensi meningkatkan biaya pendanaan bagi dunia usaha dan pemerintah. Kondisi tersebut dapat memperlemah nilai tukar rupiah, mengurangi likuiditas pasar keuangan, serta membuat penghimpunan modal menjadi lebih mahal dibandingkan negara pesaing di kawasan.
Menurut Achmad, persoalan utama yang harus segera dibenahi bukan hanya aspek teknis pasar modal, melainkan juga upaya membangun kembali kepercayaan investor terhadap kepastian regulasi, transparansi, dan tata kelola pasar. Reformasi yang telah diumumkan pemerintah perlu segera diimplementasikan secara konsisten agar tidak berhenti pada level kebijakan.
“Yang dipertaruhkan bukan hanya status klasifikasi pasar, tetapi kredibilitas Indonesia di mata investor global. Pemerintah, OJK, dan BEI harus menjadikan peringatan ini sebagai momentum mempercepat reformasi sehingga Indonesia tetap menjadi tujuan investasi yang kompetitif di tengah persaingan regional,” ujar Achmad.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sangat Berdasar
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai kekhawatiran dunia usaha sangat berdasar. Menurutnya, jika Indonesia benar-benar turun kasta, arus modal asing bisa tertekan tajam.
“Kekhawatiran dunia usaha sangat berdasar mengingat kondisi ekonomi Indonesia dipandang buruk oleh lembaga rating,” kata Nailul.
Saat ini perusahaan berada dalam fase menahan ekspansi. “Artinya produksi bisa turun. Ketika produksi turun, maka value dari saham juga bisa mengikuti,” katanya.
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan akan menjalin komunikasi dan diskusi secara konstruktif, sebagai upaya menanggapi tinjauan yang telah diumumkan oleh S&P Dow Jones Indices.
“BEI akan menjalin komunikasi dan diskusi yang konstruktif dengan S&P Dow Jones Indices terkait untuk mendalami concern yang disampaikan, dan memahami berbagai aspek yang menjadi perhatian dalam proses evaluasi tersebut,” kata Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik di Jakarta, Rabu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!