Festival Lamaholot Diandalkan Angkat Wisata NTT, ASITA Soroti Dampak Jangka Panjang
📅 Senin, 06 Jul 2026, 17:05 WIB | Oleh: Tim PenulisKUPANG – Pengembangan wisata berkelanjutan berbasis masyarakat menjadi strategi untuk memastikan pertumbuhan sektor pariwisata berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan warga dan pelestarian lingkungan.
Dengan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama, manfaat ekonomi dari aktivitas wisata dapat tersebar lebih merata melalui usaha lokal, jasa wisata, hingga produk kreatif.
Model ini juga memperkuat daya saing destinasi karena menawarkan pengalaman yang autentik, sekaligus mendorong masyarakat menjaga budaya dan sumber daya alam sebagai aset jangka panjang bagi pariwisata.
Festival Lamaholot yang digelar di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 1-4 Juli 2026 selain menjadi ruang promosi budaya dan destinasi unggulan juga menjadi upaya memperkuat pengembangan wisata berkelanjutan berbasis masyarakat.
Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) NTT Oyan Kristian saat dihubungi dari Kupang, Senin (6/7), mengatakan konsep wisata berbasis masyarakat atau community based tourism yang diangkat dalam Festival Lamaholot 2026 sejalan dengan kebutuhan pasar wisata saat ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Tren pariwisata dunia sekarang adalah sustainable tourism, bagaimana pariwisata memberi dampak kepada masyarakat sekitar, wisatawan bukan hanya sebagai penonton, tetapi benar-benar menjadi pelaku langsung," katanya.
Menurut dia, wisatawan tidak lagi hanya mencari keindahan suatu destinasi, tetapi juga melihat bagaimana aktivitas perjalanan mereka dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang dikunjungi.
Oyan menjelaskan berbagai atraksi berbasis budaya seperti aktivitas menenun, kehidupan masyarakat kampung, hingga pengenalan tradisi lokal menjadi daya tarik yang dapat memberikan pengalaman langsung bagi wisatawan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia mengatakan pengembangan atraksi tersebut juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat karena wisatawan membayar layanan yang disiapkan komunitas lokal, mulai dari atraksi budaya, makanan, minuman, hingga produk ekonomi kreatif.
Selain aspek budaya, kata dia, penguatan wisata berkelanjutan dalam festival tersebut juga terlihat melalui pengembangan atraksi berbasis lingkungan seperti kawasan mangrove.
Menurut dia, kawasan mangrove yang sebelumnya belum banyak dilihat sebagai potensi wisata kini dapat dikembangkan menjadi destinasi edukasi lingkungan melalui kolaborasi pemerintah, lembaga nonpemerintah, dan masyarakat.
"Salah satu aktivitas menarik yang ditawarkan kepada tamu adalah mereka datang dan menanam mangrove, kemudian mendapat penjelasan tentang jenis-jenis mangrove dan manfaatnya bagi masyarakat setempat," katanya.
Ia menambahkan wisatawan saat ini, terutama dari negara maju, membutuhkan pengalaman yang autentik dan unik saat mengunjungi suatu destinasi.
Karena itu, selain memperkuat aksesibilitas, amenitas, dan atraksi, pengelola destinasi juga perlu menghadirkan pengalaman langsung bagi wisatawan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!