Rahasia para Atlet Tua yang Masih Tampil Luar Biasa
📅 Minggu, 05 Jul 2026, 14:38 WIB | Oleh: SriyonoCristiano Ronaldo mungkin adalah contoh paling ekstrem mengenai bagaimana disiplin dapat mengalahkan kalender.
Ia mengatur makanan dengan ketat, membagi asupan menjadi beberapa porsi kecil, menghindari alkohol, membatasi gula, menjaga kualitas protein, hingga memastikan tubuh memperoleh waktu pemulihan yang cukup. Rutinitas latihannya dilakukan untuk menjaga daya ledak, fleksibilitas, dan kesehatan sendi agar tetap mampu bersaing pada usia kepala empat.
Ia juga mengelola tidurnya dengan bukan delapan jam dalam satu blok malam, tapi lima sesi berdurasi sembilan puluh menit sepanjang hari. Dia melakukannya di bawah pengawasan seorang konsultan tidur yang khusus didatangkan untuk itu. Tujuannya adalah menjaga sekresi hormon pertumbuhan tetap berdenyut teratur dan meredam lonjakan kortisol yang biasa muncul kalau tidur cuma sekali semalam.
Lain lagi LeBron James. Kisah yang sudah berulang kali diceritakan media Amerika Serikat, LeBron disebut mengeluarkan dana sekitar 1,5 juta dolar AS hanya untuk merawat tubuhnya dalam satu tahun. Uang sebanyak itu dianggarkan untuk koki pribadi, fisioterapis, pakar kebugaran, terapi pemulihan, pemantauan kondisi tubuh, dan tidur. Ya, tidur.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tidur bagi LeBron menjadi bagian dari pekerjaannya. Ia berusaha mendapatkan waktu istirahat delapan hingga sepuluh jam setiap hari, bahkan masih menyempatkan tidur siang menjelang pertandingan jika memungkinkan.
Proses Merusak Otot
Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa latihan sebenarnya hanyalah proses merusak otot dalam skala kecil. Perkembangannya justru terjadi ketika tubuh memperbaiki kerusakan itu saat beristirahat. Tanpa pemulihan yang cukup, latihan tambahan sering kali hanya menghasilkan tubuh yang semakin lelah, bukan semakin kuat. Bahkan latihan berlebihan tanpa jeda dapat mempercepat proses penuaan biologis.
Sebaiknya Anda baca juga:
Para atlet veteran ini pula yang tampak lebih "cerdas" dalam menggunakan tenaga mereka. Ronaldo, LeBron, Djokovic, Messi, semuanya mengubah gaya permainannya dibandingkan saat mereka muda.
Contoh paling jelas adalah jalan kakinya Messi. Berdasarkan laporan The Athletic, Messi adalah pemain sepak bola yang paling sering jalan kaki di lapangan, bahkan itu sudah dilakukannya sejak Piala Dunia 2022. Ketika akhirnya ia mencium trofi Piala Dunia.
Penelitian mengenai gaya permainan Messi menjabarkan bahwa jalan kakinya kapten Timnas Argentina itu adalah cara menghemat energi sekaligus membangun peta permainan di kepalanya. Ia terus memindai posisi rekan setim dan lawan sebelum bola datang. Ia tahu kapan harus berlari dan ke mana arahnya. Sehingga ketika akhirnya menerima umpan, seringnya, ujungnya adalah gol.
Di lapangan tenis, Novak Djokovic dikenal karena kemampuannya mengejar bola yang tampaknya mustahil dijangkau. Ia meluncur dari satu sudut lapangan ke sudut lain, meregangkan tubuhnya, merentangkan kaki selebar-lebarnya.
Kini, pada usia 39 tahun, Djokovic memang masih mampu melakukan split yang sama. Tetapi ia tidak lagi melakukannya sesering dulu. Yang berubah adalah efisiensinya dalam bermain. Jika dulu ia mampu berlari lebih sering, kini poin yang diincar sebisa mungkin didapat lewat dua atau tiga pukulan. Bahkan hanya bermodal servis.
Titik balik karier Djokovic terjadi pada tahun 2010 ketika ia mengalami kelelahan fisik parah di Australian Open. Setelah berkonsultasi dengan ahli nutrisi, ia menemukan bahwa tubuhnya intoleran terhadap gluten dan produk susu. Ia pun merombak total pola makannya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!