Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bang Japar Kalideres Gelar Festival Budaya Betawi dan Lebaran Anak Yatim, Fahira Idris: Jakarta Kota Global, Berbudaya dan Peduli.

📅 Minggu, 05 Jul 2026, 22:56 WIB | Oleh:
Bang Japar Kalideres Gelar Festival Budaya Betawi dan Lebaran Anak Yatim, Fahira Idris: Jakarta Kota Global, Berbudaya dan Peduli. Doc: Istimewa
Ket. Fahira Idris menyatakan Jakarta sebagai kota global harus tetap berbudaya dan peduli. Pesan itu disampaikan dalam Festival Budaya Betawi dan Lebaran Anak Yatim Bang Japar Kalideres.

Ketua Umum Bang Japar yang juga Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta Fahira Idris menegaskan bahwa kemajuan Jakarta menuju kota global harus tetap berjalan beriringan dengan pelestarian budaya, penguatan gotong royong, dan kepedulian sosial. Menurutnya, kota yang maju tidak hanya dibangun dengan infrastruktur dan teknologi, tetapi juga dengan identitas budaya yang kuat serta solidaritas antarwarganya.

Hal tersebut disampaikan Fahira Idris pada penyelenggaraan Festival Budaya dan Seni Betawi dalam rangka memperingati HUT ke-499 Jakarta dan Lebaran Anak Yatim yang digelar Bang Japar Komando Kecamatan Kalideres pada Sabtu-Minggu, 4–5 Juli 2026, di Tembok Bolong, Kelurahan Semanan, Kalideres, Jakarta Barat.

“Jakarta sedang melangkah menuju usia lima abad dan terus bergerak menjadi kota global. Namun, kemajuan itu harus tetap berjalan bersama kekuatan budaya, semangat gotong royong, dan kepedulian sosial. Jakarta boleh terus berkembang, tetapi akar budaya dan rasa kemanusiaannya harus tetap kuat,” ujar Fahira Idris di Jakarta, Ahad (5/7).

Senator Jakarta ini menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar Bang Japar Komando Kecamatan Kalideres yang menginisiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, festival ini berhasil mempertemukan beberapa semangat kebaikan sekaligus, yaitu pelestarian budaya Betawi, penguatan silaturahmi warga, pemberdayaan UMKM dan kuliner lokal, serta berbagi kebahagiaan bersama anak-anak yatim.

“Budaya dirawat, silaturahmi diperkuat, ekonomi warga digerakkan, dan kebahagiaan dibagikan. Inilah bentuk kegiatan masyarakat yang menurut saya sangat bermakna karena manfaatnya dirasakan dari banyak sisi,” kata Fahira Idris.

Festival tersebut menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari lomba mewarnai untuk anak-anak, pentas seni dan budaya Betawi, penampilan Sueb The Reborn, pertunjukan lenong, kuliner dan jajanan khas Betawi, hingga rangkaian kegiatan Lebaran Anak Yatim.

Menurut Fahira Idris, panggung-panggung budaya seperti ini perlu terus diperbanyak di berbagai wilayah Jakarta. Pelestarian budaya Betawi tidak cukup hanya dilakukan melalui seremoni, tetapi harus dihadirkan sebagai pengalaman hidup yang dekat dengan masyarakat dan menarik bagi generasi muda.

“Budaya Betawi bukan sekadar warisan masa lalu. Budaya Betawi adalah identitas, kebanggaan, dan kekuatan Jakarta. Karena itu, seni, musik, lenong, kuliner, bahasa, dan berbagai ekspresi budaya Betawi harus terus diberikan ruang agar hidup dari generasi ke generasi,” ujarnya.

Fahira Idris juga menilai festival budaya di tingkat kampung dan kecamatan memiliki nilai strategis karena mampu menjadi ruang perjumpaan antarwarga. Di tengah perkembangan kota yang semakin cepat dan kehidupan masyarakat yang semakin individual, ruang kebersamaan menjadi semakin penting.

Menurutnya, menjaga budaya juga berarti menjaga kohesi sosial. Festival yang mempertemukan anak-anak, keluarga, pelaku seni, tokoh masyarakat, UMKM, organisasi masyarakat, dan warga dalam satu ruang dapat memperkuat ikatan sosial sekaligus rasa memiliki terhadap Jakarta.

“Jakarta membutuhkan semakin banyak ruang tempat warga bisa bertemu, saling mengenal, menikmati budaya, dan bergotong royong. Kota global tetap membutuhkan kampung yang guyub dan warga yang peduli satu sama lain,” ungkapnya.

Selain pelestarian budaya, Fahira Idris menilai kehadiran UMKM dan kuliner lokal dalam festival juga harus terus diperkuat. Menurutnya, kegiatan budaya akan semakin memberi manfaat apabila juga menjadi ruang promosi dan perputaran ekonomi bagi pelaku usaha kecil di lingkungan sekitar.

“Ketika sebuah festival memberi panggung kepada seniman lokal sekaligus membuka ruang bagi UMKM, maka budaya dan ekonomi warga tumbuh bersama. Ini yang harus terus kita dorong,” ujarnya lagi.

Fahira Idris mengungkapkan, bagian yang paling menyentuh dalam kegiatan tersebut adalah Lebaran Anak Yatim. Menurutnya, momentum ini mengingatkan semua pihak bahwa pembangunan sebuah kota tidak hanya berbicara tentang jalan, gedung, transportasi, dan ekonomi, tetapi juga tentang kasih sayang, kepedulian, serta keberpihakan kepada mereka yang membutuhkan perhatian.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

PM Lawrence Wong Bakal ke Jakarta, Ada Apa?

26 menit yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
PM Lawrence Wong Bakal ke J...
Tayang 8 Juli di Bioskop Indonesia, Film "Moana" versi Live-Action Dibintangi Dwayne "The Rock" Johnson

Tayang 8 Juli di Bioskop Indonesia, Film "Moana" versi Live-Action Dibintangi Dwayne "The Rock" Johnson

05 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.