Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

WHO Catat Jumlah Korban Meninggal Akibat Ebola di RD Kongo Bertambah Jadi 452 Orang

📅 Sabtu, 04 Jul 2026, 13:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
WHO Catat Jumlah Korban Meninggal Akibat Ebola di RD Kongo Bertambah Jadi 452 Orang Doc: ANTARA/Xinhua
Ket. Para petugas medis melakukan disinfeksi di pusat pengobatan Ebola di Mongbwalu, Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, pada 20 Juni 2026.

JENEWA - Wabah penyakit virus Bundibugyo (Bundibugyo virus disease/BVD), salah satu penyakit Ebola, di Republik Demokratik (RD) Kongo telah mengakibatkan 452 orang meninggal dunia dari 1.460 kasus terkonfirmasi hingga 1 Juli, dengan penularan yang terus menyebar ke zona-zona kesehatan baru, demikian dilaporkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat (3/7).

Dalam pembaruan terkini Disease Outbreak News, WHO menyatakan bahwa hingga 2 Juli, Uganda melaporkan 20 kasus terkonfirmasi, termasuk dua kematian, serta satu kasus kematian yang diduga kuat terkait dengan Ebola (probable fatal case).

Kasus terkonfirmasi terakhir di Uganda tercatat pada 21 Juni. Sementara itu, pada 24 Juni, otoritas Prancis menginformasikan kepada WHO mengenai satu kasus infeksi BVD yang terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium pada seorang dokter yang baru kembali dari RD Kongo.

Di Uganda, wabah tersebut masih memiliki keterkaitan secara epidemiologis dengan penularan yang terjadi di RD Kongo, dengan bukti adanya infeksi impor maupun penularan sekunder (secondary transmission) di antara kontak dan tenaga kesehatan.

Otoritas nasional di kedua negara terdampak, bekerja sama dengan WHO dan para mitranya, menerapkan serangkaian langkah penanggulangan secara menyeluruh. Sementara itu, kerangka kerja kesiapsiagaan dan penetapan prioritas di tingkat regional terus menjadi pedoman bagi upaya kesiapsiagaan di seluruh Kawasan Afrika.

Menurut WHO, BVD merupakan penyakit zoonosis berat, dengan kelelawar buah diduga sebagai reservoir alaminya, dan virus ini menular ke manusia melalui kontak dengan satwa liar yang terinfeksi atau cairan tubuh penderita yang bergejala.

Masa inkubasinya berkisar antara dua hingga 21 hari, dengan gejala awal yang tidak spesifik seperti demam dan kelelahan kerap menunda diagnosis, sebelum berkembang menjadi masalah gastrointestinal dan manifestasi hemoragik.

Dalam penilaian risiko terkininya, yang diperbarui pada 6 Juni, WHO menetapkan tingkat risiko wabah tersebut sangat tinggi di RD Kongo akibat penularan yang berkelanjutan, serta tingkat risiko tinggi di Uganda dan negara-negara tetangganya karena mobilitas lintas perbatasan dan adanya keterkaitan dengan wabah-wabah sebelumnya.

Risiko untuk wilayah lain di Kawasan Afrika dan di seluruh dunia dinilai rendah, meskipun pergerakan penduduk yang berkelanjutan dan kapasitas respons yang bervariasi tetap menjadi perhatian untuk daerah perbatasan.

Wabah virus ini pada 2007 dan 2012 mencatat tingkat kematian kasus masing-masing sebesar 30 persen dan 50 persen.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Kemenkes Sebut Nakes Dilindungi Hukum Nasional

42 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
Kemenkes Sebut Nakes Dilind...
Luar Negeri
Cita Rasa Rendang dan Kopi ...
Nasional
Pemerintah Sebut Tarif List...
Rona
MALIQ & D’Essentials Siap...
133 Kelompok Budidaya Ikan di Mataram Terima Bantuan Rp1,7 Miliar dari DKP.

133 Kelompok Budidaya Ikan di Mataram Terima Bantuan Rp1,7 Miliar dari DKP.

03 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.