Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kasus Ebola di Kongo Mencapai 782 Orang, 181 di Antaranya Meninggal Dunia

📅 Senin, 15 Jun 2026, 09:52 WIB | Oleh:
Kasus Ebola di Kongo Mencapai 782 Orang, 181 di Antaranya Meninggal Dunia Doc: AP
Ket. Petugas kesehatan menyiapkan peti mati untuk seorang pasien Ebola yang meninggal di Klinik Citadelle, Kongo, Jumat 12 Juni 2026.

KINSHASA — Jumlah kasus Ebola yang terkonfirmasi di Kongo telah meningkat menjadi 782, dengan 181 di antaranya meninggal dunia, kata Kementerian Kesehatan Kongo dalam sebuah pernyataan di platform media sosial X, Minggu (14/6) malam.

Namun, jumlah kasus di Kongo diyakini lebih tinggi karena wabah tersebut dikonfirmasi pada 15 Mei, beberapa minggu setelah wabah diduga dimulai, dan tingkat cakupan pelacakan kontak berada di angka 56 persen, menurun tajam dari minggu lalu.

Wabah Ebola terbaru disebabkan oleh virus Bundibugyo yang langka, yang belum memiliki vaksin atau pengobatan yang disetujui, tidak seperti "virus Zaire," yang bertanggung jawab atas sebagian besar dari 16 wabah penyakit di Kongo sebelumnya.

Kementerian Kesehatan Kong, seperti dikutip Associated Press, menyatakan bahwa 56 orang telah pulih, dan tingkat kematian akibat wabah saat ini 23 persen.

Wabah ini terkonsentrasi di provinsi Ituri, Kongo bagian timur, yang menyumbang lebih dari 90 persen kasus. Kasus juga tercatat di provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan, dan telah menyebar melintasi perbatasan ke Uganda.

Menurut kantor kemanusiaan PBB, hampir satu juta orang telah mengungsi akibat konflik di Ituri, sehingga pelacakan kontak menjadi sulit karena orang-orang melarikan diri dari serangan atau sering berpindah tempat di provinsi yang luas dengan hutan lebat, jalan yang buruk, dan desa-desa terpencil yang membutuhkan waktu berhari-hari untuk dicapai.

Wabah Ebola di Kong meningkat menjadi lebih dari 100 kematian dari 550 kasus, sementara konflik memperlambat respons

Pelacakan juga sulit dilakukan di antara ribuan penambang tradisional yang secara teratur berpindah-pindah di lokasi terpencil di wilayah yang kaya mineral ini.

Serangan terhadap petugas kesehatan dari warga yang marah, skeptisisme di kalangan sebagian penduduk setempat, dan konflik bersenjata di titik-titik rawan terus menjadi tantangan bagi upaya menghentikan wabah tersebut.

Bulan lalu, para pejabat AS mengatakan Washington bermaksud mengirim warga Amerika yang terpapar Ebola saat berada di luar negeri ke fasilitas baru di Kenya daripada menerbangkan mereka kembali ke tanah air. Mereka mengatakan fasilitas tersebut akan berlokasi di Pangkalan Udara Laikipia dengan kapasitas 50 tempat tidur karantina. Langkah ini memicu protes atas rencana pembangunan pusat karantina Ebola, yang kemudian dihentikan oleh pengadilan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Abu Vulkanik Masih Bisa Menembus Masker N95, Kecuali Diberi Tambahan
    Pantesan negara ga maju2, profesor UI lohhhh , ...
  • BTN Dorong Industri Kopi Indonesia Naik Kelas Lewat Kolaborasi dan Digitalisasi
    Langkah luar biasa dari BTN dalam menginisiasi kolaborasi ...
  • OJK Bubarkan 58 Dana Pensiun, Ada Apa dengan Industri Pensiun RI?
    Meskipun terdapat pembubaran puluhan dana pensiun pemberi kerja, ...
  • Kini Deli Serdang Kembangkan Industri Jamur Menggunakan Elektrifikasi, Bisa Ditiru
    Inisiatif pemanfaatan teknologi elektrifikasi melalui mesin pengaduk media ...
  • Perkuat Daya Saing di Tengah Dinamika Pasar Global, VDNI Pacu Pertumbuhan Berkelanjutan di 2026
    Langkah strategis PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) ...

Semburan asap di Pasar Baru

2 jam lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Semburan asap di Pasar Baru
Megapolitan
Antisipasi dampak abu vulka...
Advertisement
Karhutla Sampai Jakarta, Lapangan Sepak Bola di Pancoran Kebakaran

Karhutla Sampai Jakarta, Lapangan Sepak Bola di Pancoran Kebakaran

08 Sep 2026
Pilihan Pembaca
# 4
# 4
Wapres Sara Duterte Bayar Uang Jaminan
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.