Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Peneliti UB Temukan Empat Spesies Kumbang Baru

2 Minggu, 28 Jun 2026, 16:19 WIB | Oleh:
Peneliti UB Temukan Empat Spesies Kumbang Baru Peneliti UB Temukan Empat Spesies Kumbang Baru Doc: Istimewa
Ket. Dalam proses identifikasi, tim menggunakan dua pendekatan utama, yaitu analisis morfologi dan analisis molekuler berbasis DNA. Melalui pendekatan morfologi, para peneliti membandingkan karakteristik fisik spesimen dengan koleksi yang tersimpan di berbagai museum serangga dunia.

MALANG - Tim peneliti Universitas Brawijaya (UB) berkolaborasi dengan University of Florida, Michigan State University dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan dan mendeskripsikan empat spesies baru kumbang ambrosia dan kumbang kulit kayu dari kawasan UB Forest, Jawa Timur.

Temuan penting dalam bidang biodiversitas hutan tropis ini telah dipublikasikan pada 21 Juni 2026 dalam Journal of the Coleopterists Bulletin melalui artikel berjudul “Checklist of the Bark and Ambrosia Beetle Species (Coleoptera: Curculionidae: Platypodinae and Scolytinae) Collected at the Universitas Brawijaya Forest Properties, East Java, Indonesia with Descriptions of New Species”.

Salah satu spesies tersebut diberi nama Amasa brawijaya sebagai bentuk penghormatan kepada Universitas Brawijaya.

Penelitian dipimpin Hagus Tarno, Guru Besar Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan UB bersama Yogo Setiawan, yang saat ini sedang menempuh studi doktoral di Kagoshima University, Jepang.

Kegiatan pengambilan data dilakukan di kawasan UB Forest sejak Oktober 2024. Penelitian ini berlangsung bersamaan dengan kegiatan Bark and Ambrosia Beetles Academy yang diselenggarakan oleh University of Florida, dengan Universitas Brawijaya sebagai tuan rumah. Kegiatan tersebut mempertemukan peneliti, akademisi, dan pakar taksonomi untuk mempelajari lebih jauh keragaman kumbang hutan tropis di Indonesia.

Tim Peneliti berhasil mengidentifikasi empat spesies baru: Crossotarsus gunungapi Hulcr, Tarno, and Levia; Cosmoderes arjuno Johnson; Cosmoderes opacus Johnson; dan Amasa brawijaya Smith.

Menariknya, salah satu spesies baru, diberi nama khusus berdasarkan Universitas Brawijaya. Amasa brawijaya, memiliki makna khusus karena namanya merujuk pada Universitas Brawijaya dan warisan sejarah Kerajaan Majapahit. Penamaan ini menjadi bentuk penghormatan terhadap identitas lokal sekaligus menegaskan bahwa kawasan hutan di Indonesia masih menyimpan kekayaan hayati yang bernilai tinggi bagi ilmu pengetahuan dunia.

Menurut Hagus nama brawijaya dipilih sebagai bentuk penghargaan terhadap Universitas Brawijaya yang menjadi tempat berkembangnya berbagai penelitian biodiversitas. Penamaan tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan citra UB dalam komunitas ilmiah internasional.

“Kami ingin nama Brawijaya tidak hanya dikenal sebagai perguruan tinggi, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah sains dunia. Ketika orang mencari atau mempelajari spesies ini, mereka akan mengetahui bahwa spesies tersebut ditemukan melalui penelitian yang dilakukan di Universitas Brawijaya,” ujarnya.

Proses pengambilan sampel dilakukan pada ranting dan kayu kering yang jatuh di tanah. Kumbang ambrosia ditemukan pada berbagai jenis kayu, seperti pinus, kopi, sonokembang, Ficus, dan jenis kayu lainnya yang menjadi tempat tumbuh jamur sumber makanannya.

“Kumbang ambrosia memiliki keunikan karena hidup bersimbiosis dengan jamur. Mereka membuat terowongan di dalam kayu dan menumbuhkan jamur sebagai sumber makanannya.

Karena itu, kami banyak mengambil sampel dari berbagai jenis ranting dan kayu di UB Forest,” jelas Hagus.

Dalam proses identifikasi, tim menggunakan dua pendekatan utama, yaitu analisis morfologi dan analisis molekuler berbasis DNA. Melalui pendekatan morfologi, para peneliti membandingkan karakteristik fisik spesimen dengan koleksi yang tersimpan di berbagai museum serangga dunia. Sementara itu, analisis molekuler dilakukan dengan mengekstraksi DNA untuk membandingkan sekuens genetik spesimen dengan basis data internasional.

“Kami membandingkan karakter morfologinya dengan spesies yang telah tersimpan di berbagai museum serangga dunia. Selain itu, kami juga melakukan analisis DNA untuk memastikan perbedaannya secara genetik, jika hasilnya menunjukkan adanya perbedaan signifikan dengan spesies yang telah diketahui sebelumnya, maka spesimen tersebut dapat ditetapkan sebagai spesies baru” jelas Prof. Hagus.

Spesimen Amasa brawijaya kini tersimpan di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) yang dikelola oleh BRIN sebagai koleksi ilmiah dan referensi penelitian biodiversitas Indonesia.

Temuan empat spesies baru ini menunjukkan bahwa hutan tropis Indonesia, termasuk di Jawa Timur kawasan UB Forest, memiliki potensi besar sebagai laboratorium alam untuk penelitian biodiversitas.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kimi Antonelli Ukir Sejarah! Di Usia 20 Tahun Resmi Jadi Juara Dunia Formula 1 2026

Kimi Antonelli Ukir Sejarah! Di Usia 20 Tahun Resmi Jadi Juara Dunia Formula 1 2026

02 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.