Babi Hutan dan Monyet Serbu Ladang Petani Badui
📅 Minggu, 28 Jun 2026, 23:15 WIB | Oleh: Tim PenulisLebak - Sejumlah petani Badui di Kabupaten Lebak, Banten, mengalami kerugian akibat serangan kawanan babi hutan dan monyet yang datang secara berkelompok merusak tanaman pertanian ladang di Blok Cicuraheum Gunungkencana seluas 5 hektare.
"Kami mestinya dari usaha pertanian ladang menghasilkan pendapatan Rp25 juta, namun kini merugi karena tanaman rusak akibat serangan binatang itu," kata Sarja (50) seorang petani Badui saat dihubungi di Lebak, Minggu.
Kawanan monyet datang pukul 12.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB berkelompok antara 20 sampai 30 ekor menyerang tanaman pertanian pisang, singkong, ubi, jagung, tiwu endog, cabai dan lainnya sekitar pukul 01.10 WIB sampai pukul 03.00 WIB dinihari.
Sedangkan, serangan babi hutan pada dini hari sekitar pukul 02.00 sampai 03.30 WIB. Populasi binatang tersebut yang datang secara berkelompok merusak tanaman pertanian dan membuat petani Badui merasa ketakutan.
Sebab, satwa monyet dan babi hutan itu bisa melakukan aksi perlawanan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kami tidak berani melakukan pencegahan terhadap binatang itu, karena khawatir diserang kawanan satwa itu," kata Sarja.
Menurut dia, areal pertanian ladang di Blok Cicuraheum Gunungkencana seluas 5 hektare mengalami kerugian sekitar lima petani Badui.
Mereka petani Badui juga terkadang memanen lebih dahulu, sebab jika menunggu matang dikhawatirkan dimakan binatang itu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Serangan monyet dan babi hutan di wilayahnya sudah berlangsung dua bulan terakhir dan menimbulkan kerugian cukup besar.
"Kami hanya pasrah dan kemungkinan serangan binatang itu sudah saatnya merusak tanaman pertanian palawija dan hortikultura," katanya menjelaskan.
Begitu juga petani Badui lainya, Karna (55) mengatakan pihaknya tidak bisa memanen tanaman miliknya seperti pisang, ubi, pepaya dan kacang tanah, singkong akibat serangan monyet dan babi hutan.
Saat ini, populasi binatang menyerang tanaman petani setelah adanya alih fungsi lahan, karena habitatnya di kawasan hutan dieksploitasi pertambangan batu.
Selain itu juga pesatnya pembangunan permukiman , jalan ton , sehingga monyet kesulitan untuk mencari makanan.
"Kami menduga satwa itu kelaparan yang biasanya mencari makanan sekitar hutan aliran sungai, namun kini sudah kehilangan habitatnya," katanya menjelaskan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!