Korban Tewas Akibat Banjir di Tailan dan Myanmar Meningkat
📅 Selasa, 29 Sep 2026, 02:02 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: AFP/Wikus De Wet
BANGKOK - Hujan lebat telah menewaskan delapan orang di Tailan sejak pertengahan September, sementara Bangkok masih dilanda banjir selama beberapa hari berturut-turut. Bencana serupa juga melanda Myanmar dan menewaskan sedikitnya delapan orang. Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana Tailan menyebut korban jiwa terjadi di tiga provinsi timur sejak 16 September. Secara nasional, banjir berdampak pada ratusan ribu rumah tangga di puluhan provinsi.
Di Bangkok, pemerintah kota menetapkan status bencana setelah hujan deras menyebabkan rumah, jalan, pertokoan, dan sejumlah fasilitas terendam. Sekolah-sekolah ditutup dan warga diminta bekerja dari rumah jika memungkinkan.
Sejumlah warga masih harus menerjang banjir setinggi lutut hingga paha. Di beberapa kawasan, warga menggunakan wadah plastik dan kotak es untuk membawa makanan serta kebutuhan sehari-hari dari pasar dan supermarket.
Nattapon Mankean, 32, mengatakan ia dan kekasihnya terpaksa meninggalkan apartemen mereka di Bang Kapi bersama dua kucing setelah listrik dan air bersih terputus.
“Baterai telepon kami mati, kami tidak memiliki air yang mengalir -- semuanya menjadi sulit,” katanya kepada AFP.
Hampir 4.900 warga Bangkok telah dievakuasi ke tempat penampungan, sementara sekitar 52.000 rumah tangga terdampak banjir. Hujan lebih dari 330 milimeter tercatat di sejumlah kawasan ibu kota antara Kamis hingga Minggu.
Gubernur Bangkok Chadchart Sittipunt mengatakan ketinggian air di sejumlah kanal masih tinggi, tetapi pemerintah terus mempercepat proses pengeringan. Hujan diperkirakan mulai mereda pada Senin.
Korban di Myanmar
Hujan deras juga memicu banjir besar dan tanah longsor di wilayah Tanintharyi, Myanmar selatan. Tim penyelamat menyebut sedikitnya delapan orang tewas dan sekitar 20 hingga 30 lainnya masih hilang di Kotapraja Launglon.
Tiga korban merupakan remaja yang sedang berada di sebuah biara pada Minggu ketika tanah longsor menerjang desa mereka dan mengubur 18 bangunan.
Upaya penanganan bencana di Myanmar menghadapi kendala karena wilayah terdampak berada di tengah konflik bersenjata. Relawan mengatakan keterbatasan sumber daya menyulitkan proses pencarian dan bantuan bagi warga. SB/AFP/and
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!