Pelemahan Rupiah dan Konflik Global, Wamenpar Beberkan Peluang Baru bagi Pariwisata Indonesia
📅 Minggu, 31 Mei 2026, 05:00 WIB | Oleh: Tim PenulisMenurut Rahma, salah satu faktor utama yang dapat mendorong penguatan rupiah adalah meredanya ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat.
"Jika tingkat pengangguran AS meningkat dan inflasi turun di bawah 3 persen, pasar akan kembali memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga The Fed. Hal ini dapat menurunkan imbal hasil Treasury AS dan mendorong aliran modal kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia," ujarnya.
Faktor lain yang dapat mendukung penguatan rupiah adalah stabilitas harga energi global. Sebagai negara pengekspor komoditas, Indonesia akan diuntungkan jika ketegangan di Timur Tengah mereda dan harga minyak dunia turun ke kisaran 75-80 dolar AS per barel.
Menurut Rahma, pemerintah dan Bank Indonesia juga perlu terus memperkuat kebijakan struktural, seperti optimalisasi devisa hasil ekspor (DHE), menjaga daya tarik SRBI, memperluas transaksi mata uang lokal (LCT), serta mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di sisi lain, pemerintah dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar dengan menekan impor yang tidak mendesak dan menunda proyek-proyek yang memiliki komponen impor tinggi.
Meski demikian, Rahma mengingatkan bahwa efektivitas berbagai kebijakan tersebut tetap sangat dipengaruhi oleh sentimen dan psikologi pasar.
"Langkah-langkah tersebut memang terlihat kuat di atas kertas, tetapi efektivitasnya sering kali berbenturan dengan psikologi pasar," kata Rahma.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!