IHSG Hari Ini Berpotensi Bergejolak, Investor Ramai-Ramai Ikuti Rebalancing MSCI
📅 Jumat, 29 Mei 2026, 10:45 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Potensi volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencerminkan tingginya sensitivitas pasar terhadap berbagai sentimen global maupun domestik, mulai dari arah suku bunga bank sentral, pergerakan harga komoditas, hingga dinamika geopolitik.
Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.
Di sisi lain, volatilitas juga menunjukkan pasar sedang mencari keseimbangan baru terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dan kinerja emiten.
Karena itu, stabilitas fundamental domestik seperti inflasi terkendali, nilai tukar rupiah, dan daya beli masyarakat tetap menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor terhadap pasar saham Indonesia.
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (29/5) berpotensi bergerak volatil seiring penyesuaian portofolio oleh para manajer investasi mengikuti rebalancing indeks MSCI yang akan mulai berlaku setelah penutupan perdagangan hari ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
IHSG dibuka melemah 17,42 poin atau 0,28 persen ke posisi 6.112,77. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 10,51 poin atau 1,69 persen ke posisi 609,89.
“Untuk perdagangan hari ini, IHSG masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan volatil,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Jumat (29/5).
Dari dalam negeri, tanggal efektif rebalancing indeks MSCI akan mulai berlaku setelah penutupan perdagangan hari ini, Jumat (29/05), yang berpotensi terjadinya penyesuaian portofolio oleh para manajer investasi global yang mengikuti indeks MSCI.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Sehingga, dapat menyebabkan aksi jual masif terutama pada saham-saham yang dikeluarkan dari indeks MSCI serta memicu kenaikan volatilitas pasar,” ujar Ratna.
Di sisi lain, pemerintah tengah menyiapkan skema intensif untuk kendaraan listrik yang menggunakan baterai berbasis nikel. Adapun, salah satu opsi yang sedang dalam pembahasan adalah PPN akan ditanggung oleh pemerintah dengan besaran yang bervariasi mulai dari 40 persen hingga 100 persen.
Untuk baterai yang berasal dari nikel dan non nikel akan dibedakan skemanya, dengan kendaraan berbasis baterai nikel kemungkinan akan memperoleh insentif lebih besar.
Namun demikian, insentif tersebut masih dalam pembahasan sehingga pelaksanaannya akan ditunda satu bulan. Ke depan, hal ini berpotensi menjadi faktor positif bagi emiten yang memproduksi baterai listrik berbasis nikel.
Dari mancanegara, sentimen pasar diperkuat oleh laporan terkait potensi perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran selama 60 hari, yang dinilai dapat meredakan sementara risiko geopolitik di Timur Tengah.
Meski belum memperoleh persetujuan final dari Presiden AS Donald Trump, pasar merespons positif perkembangan negosiasi tersebut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!