Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bedah Bariatrik Cara Efektif Tangani Obesitas dan Penyakit Metabolik

📅 Jumat, 22 Mei 2026, 19:35 WIB | Oleh:
Bedah Bariatrik Cara Efektif Tangani Obesitas dan Penyakit Metabolik Doc: Koran Jakarta - Haryo Brono
Ket. Dr. dr. Errawan Wiradisuria, tengah menjelaskan Bedah Bariatrik–Metabolik kegiatan media gathering bertajuk “Mengenal Bedah Bariatrik–Metabolik untuk Obesitas” di Jakarta pada hari Rabu (20/5). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya edukasi rumah sakit kepada media dan masyarakat mengenai perkembangan teknologi medis dalam penanganan obesitas.

JAKARTA— Kasus obesitas di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan dan kini menjadi salah satu persoalan kesehatan yang mendapat perhatian serius kalangan medis. Tidak lagi dipandang sekadar persoalan penampilan atau gaya hidup, obesitas telah dikategorikan sebagai penyakit kronis yang berpotensi memicu berbagai komplikasi berbahaya, mulai dari diabetes, hipertensi, penyakit jantung, gangguan tidur, hingga penurunan kualitas hidup.

Berangkat dari kondisi tersebut, RS Premier Bintaro menggelar kegiatan media gathering bertajuk “Mengenal Bedah Bariatrik–Metabolik untuk Obesitas” di Jakarta pada hari Rabu (20/5). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya edukasi rumah sakit kepada media dan masyarakat mengenai perkembangan teknologi medis dalam penanganan obesitas.

Acara menghadirkan dokter spesialis bedah subspesialis bedah digestif konsultan, Dr. dr. Errawan Wiradisuria, sebagai narasumber utama. Hadir pula pada kesempatan itu CEO RS Premier Bintaro, dr. Relia Sari.

Dalam paparannya, dr. Errawan menegaskan bahwa obesitas merupakan kondisi medis kompleks yang membutuhkan penanganan komprehensif dan jangka panjang. Menurutnya, berbagai organisasi kesehatan dunia seperti American Medical Association dan Canadian Medical Association telah mengategorikan obesitas sebagai penyakit kronis karena dampaknya yang luas terhadap kesehatan tubuh.

“Obesitas hampir selalu disertai penyakit penyerta atau co-morbid seperti hipertensi, diabetes, obstructive sleep apnea, hiperlipidemia, gangguan hormonal, nyeri lutut, hingga varises pada tungkai,” ujar dr. Errawan.

Ia menjelaskan, penumpukan lemak berlebih di dalam tubuh tidak hanya memengaruhi penampilan fisik, tetapi juga mengganggu fungsi metabolisme tubuh. Pada kondisi tertentu, obesitas bahkan dapat meningkatkan risiko kematian dini akibat komplikasi penyakit kardiovaskular maupun gangguan metabolik.

Meski angka kasus obesitas terus meningkat, kesadaran masyarakat terhadap bahaya obesitas dinilai masih rendah. Banyak penderita obesitas yang baru mencari pertolongan medis ketika penyakit penyerta mulai muncul dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Errawan memperkenalkan pendekatan bedah bariatrik–metabolik sebagai salah satu solusi medis untuk menangani obesitas berat. Prosedur ini bertujuan membantu menurunkan berat badan sekaligus memperbaiki gangguan metabolisme tubuh seperti diabetes tipe 2, hipertensi, dan kolesterol tinggi.

“Bedah bariatrik bukan sekadar operasi mengecilkan lambung untuk estetika, tetapi terapi medis yang memiliki tujuan memperbaiki kesehatan pasien secara menyeluruh,” katanya.

Menurut dia, dibandingkan metode konservatif seperti diet, olahraga, dan penggunaan obat-obatan, tindakan bedah bariatrik dinilai memberikan hasil yang lebih efektif dan berkelanjutan pada pasien dengan obesitas berat. Selain membantu menurunkan berat badan secara signifikan, tindakan ini juga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien dan menurunkan risiko berbagai penyakit kronis.

Pasien yang dapat menjadi kandidat operasi umumnya memiliki Body Mass Index (BMI) di atas 35, atau BMI di atas 30 yang disertai penyakit penyerta terkait obesitas. Namun sebelum menjalani operasi, pasien harus melalui serangkaian evaluasi medis dan psikologis untuk memastikan kesiapan fisik maupun mental.

Selain itu, pasien juga dituntut memiliki komitmen tinggi untuk menjalani perubahan pola hidup sehat setelah operasi. Sebab, keberhasilan terapi tidak hanya ditentukan oleh tindakan bedah, tetapi juga disiplin pasien dalam menjaga pola makan, rutin berolahraga, mengonsumsi vitamin, serta menjalani kontrol kesehatan jangka panjang.

Dalam sesi edukasi tersebut, dr. Errawan juga memaparkan sejumlah teknik bedah bariatrik modern yang saat ini berkembang, di antaranya Sleeve Gastrectomy (SG), Roux-en-Y Gastric Bypass (RYGB), One Anastomosis Gastric Bypass (OAGB), Biliopancreatic Diversion with Duodenal Switch (BPD-DS), serta Sleeve Gastrectomy with Proximal Jejunal Bypass (PJB-S).

Salah satu prosedur yang paling banyak dipilih saat ini adalah Laparoscopic Sleeve Gastrectomy (LSG). Teknik ini dilakukan dengan mengurangi ukuran lambung menggunakan metode laparoskopi atau bedah minimal invasif. Prosedur tersebut dinilai lebih aman karena memiliki angka komplikasi yang relatif rendah, rasa nyeri pasca operasi lebih minimal, serta masa rawat inap yang lebih singkat dibandingkan operasi konvensional.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Nasional
Mau Suvenir dari Istana? In...
Jakarta Fair 2026 Tebar Hadiah Undian Fantastis: 2 Unit Mobil dan 24 Motor Siap Dibagikan

Jakarta Fair 2026 Tebar Hadiah Undian Fantastis: 2 Unit Mobil dan 24 Motor Siap Dibagikan

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.