Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Lestari Moerdijat: Peran Masyarakat Adat Penting dalam Bangkitkan Kembali Ekosistem Pangan Lokal

📅 Rabu, 20 Mei 2026, 19:47 WIB | Oleh:

Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek RI periode 2019 – 2024 Hilmar Farid berpendapat bahwa sejatinya Indonesia itu merupakan megabiodiversity no 2 terbesar di dunia.

Indonesia, ujar Hilmar, memiliki 85 persen cadangan sagu dunia, memiliki lebih dari 100 jenis sumber karbohidrat lokal, dan 700 bahasa daerah (budaya hidup).

Namun, tegas Hilmar, dengan sejumlah fakta itu, Indonesia lebih memilih mengimpor gandumuntuk memenuhi kebutuhan sebagian karbohidrat masyarakat. “Hal ini menunjukkan ada permasalahan mindset dalam membangun kedaulatan pangan kita,” ujarnya.

"Sistem pangan kita menurut Hilmar sangat terpusat. Padahal kita adalah negara kepulauan," tambah Hilmar.

Menurut dia, desentralisasi pangan nasional merupakan solusi pemenuhan kebutuhan dasar di masa depan untuk menegakkan kedaulatan pangan.

Menurut Hilmar, menempatkan masyarakat adat pada posisi penting dalam pengembangan dan penguatan pangan nasional harus diwujudkan.

Founder Javara Indigenous Indonesia Helianti Hilman berpendapat, wilayah Indonesia dengan keragaman hayati yang dimilikinya adalah sumber berbagai bahan makanan.

Berkembangnya gaya hidup sehat di dunia saat ini, ujar Helianti, membuka peluang besar bagi industri pangan lokal dengan bahan-bahan lokal untuk memasok kebutuhan pasar global.

"Keragaman dan keunikan sumber bahan panganlokal, serta budaya kita merupakan kekuatanuntuk mengekspor produk-produk pangan khusus ke luar negeri," ujar Helianti.

Menurut dia, yang terjadi saat ini adalah krisis kebijakan pangan, bukan krisis pangan. Karena, tegas Helianti, sejatinya Indonesia memiliki beragam sumber pangan.

Pendiri Komunitas Lakoat Kujawas di Pegunungan Mollo, Timor, Nusa Tenggara Timur, Dicky Senda berpendapat bahwa sistem pangan lokal harus konsisten dibangun, sehingga pengetahuan berkelanjutan terkait pangan lokal dapat terus hidup dari generasi ke generasi.

Menurut Dicky, sumber bahan pangan lokal di Timor sejatinya beragam dan sudah dikonsumsi masyarakat secara turun temurun.

Namun, stigma yang berkembang di Timor itu saat ini adalah kekurangan pangan, karena pangan hanya dimaknai makan nasi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Nasional
Minggu Bakal Diguyur Hujan,...
Advertisement
Hasil UEFA Nations League: Inggris Catatkan Kemenangan Terbesar Pertama Usai Hancurkan Kroasia 7-0

Hasil UEFA Nations League: Inggris Catatkan Kemenangan Terbesar Pertama Usai Hancurkan Kroasia 7-0

04 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.